Review Buku Full Frontal PR

Buku ini membahas tentang bagaimana membuat produk, jasa, atau diri Anda sendiri menggunakan kekuatan media baik cetak maupun elektronik, menunggangi berita yang sedang nge-trend, bahkan sampai mendapatkan promosi gratis untuk produk Anda.

Memang kekuatan branding belumlah afdol jika orang masih belum mengenal produk/jasa/siapa Anda, jadi dengan PR pesona tersebut akan semakin kelihatan dibanding pesaing (yang mungkin sudah mengeluarkan dana tidak sedikit untuk ber-iklan).

Buku ini cocok untuk Anda yang ingin memanfaatkan promosi dengan biaya yang seminim mungkin bila dibandingkan perusahaan2 besar dengan bujet iklan tak terbatas.

Advertisements

Dont Let Excuses…

Wealth and health are very similar. The people that are wealthiest and healthiest dont let excuses run their lifes. 

Banyak alasan dari dirimu untuk tidak pergi ke gym, gak punya modal, gak mau belajar investasi, gak punya waktu untuk olahraga, gak menolak ketika diajak makan junkfood, dan berbagai alasan lainnya. Sounds familiar eh?

Start small to get education in investing, invest close to home. Some best education come from the bad investment(s). You are gonna make mistakes, so what?

Disadur dari Robert T Kiyosaki

Review Buku 6 Keranjang 7 Langkah

wp-1486869771651.jpg
Buku 6 Keranjang 7 Langkah

Buku 6 Keranjang 7 Langkah karya Lim Tung Ning, seorang perencana keuangan sangatlah menarik untuk Anda yang selama ini merasa kurang bisa menabung, selalu kehabisan uang gaji sebelum akhir bulan, terjebak hutang kartu kredit dan hutang-hutang konsumtif, belum punya investasi, belum punya rumah, dan berbagai masalah keuangan lainnya.

Di buku ini Anda diajak untuk berhitung dan mengelola keuangan pribadi (maupun usaha) Anda, termasuk waspada terhadap diskon dan cicilan belanja pakai kartu kredit, hehe.. Saya sendiri termasuk orang yang sering tergiur ketika mendapat tawaran dana segar dari kartu kredit dengan bunga nol persen untuk perputaran usaha, alih-alih mengambil dana dari rekening koran fasilitas kredit suatu bank (dengan perhitungan selisih bunga). Ketika membaca buku ini saya tersadar bahwa bunga nol persen bukanlah yang saya kira tampak di penawaran telemarketer.

Anda akan diajak untuk mulai disiplin mengatur keuangan mulai dari membedakan mana kebutuhan dan keinginan, mempersiapkan dana cadangan hal-hal tak terduga, keuangan pendidikan masa depan putra-putri Anda, dan terpenting keuangan untuk masa pensiun Anda.

Selamat membaca dan mempraktikkan guys..

Tuhan, saya belum siap mati..

Ada berbagai cara Tuhan dalam menegur umatNya, salah satunya kepada ibu Evy (bukan nama sebenarnya, karena ini kisah nyata) yang kami temui siang ini.

out-of-body

Ibu Evy yang saya tahu (dulu) adalah sosok yang judes, sosok yang tidak pedulian, sosok yang mudah emosi. Ibu ini berbadan gemuk dan sehari-hari bekerja di salah satu instansi pemerintah mengurus administrasi di belakang meja kantor, jadi bisa dibayangkan aktivitasnya yang kurang gerak (olahraga, red).

Awalnya saya ragu ketika istri mengajak saya untuk bertemu dengan ibu Evy, mengingat pengalaman buruk terakhir di kantornya ketika saya komplain terhadap pelayanan instansi tersebut. Bahkan ibu ini sempat berkata ke istri : “Bu, kalau ke sini tolong sendiri saja, jangan bawa bapaknya.” Mungkin saat itu dia juga kesal dengan saya. Maaf ya bu, hehe.. Nah, karena masalah di proyek yang harus segera ditangani, mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya saya memaksakan diri melangkahkan kaki masuk ke kantornya dengan perasaan was-was.

Betapa kagetnya saya mendapati perubahan fisik serta karakter ibu Evy. Dari badan yang overweight menjadi kurus, dan dari tutur kata judes menjadi lemah lembut. Sepertinya dia sudah tidak mengenali saya, tapi mungkin juga dia sudah melupakan pengalaman buruk dengan saya karena suatu kejadian yang dialaminya. Ia mulai bercerita mengalirkan kata-kata dan perasaan dari mulut dan hatinya, ketika saya pancing dengan bertanya, “Ibu kok jauh lebih langsing, apakah diet?”

Ternyata selama dua tahun terakhir ini, ibu Evy sedang berjuang menghadapi penyakit jantung koroner. Ia sempat dihimbau oleh dokter di dua rumah sakit berbeda untuk dilakukan operasi pasang ring jantung, tetapi ditolaknya. Dan pengalaman paling mengubah hidupnya terjadi ketika di suatu hari beliau tiba-tiba anfal dan harus menginap di ruang ICU sebuah rumah sakit. Saat dirawat, dia mengalami OBE (Out Of Body Experience), suatu perasaan dimana ruh keluar meninggalkan tubuh.

out_of_body_experience_-_2-137152744_std

Dia mengalami ketakutan yang amat sangat ketika dia merasakan ruhnya terangkat dan melihat tubuhnya tergeletak di kasur dari langit-langit ruangan ICU. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong jangan ambil saya dulu, anak-anak masih butuh saya, saya belum beribadah dengan baik, saya belum menolong banyak orang…” Ia merasa melayang-melayang dalam waktu yang tidak sebentar, sampai akhirnya ia kembali ke tubuhnya dan berangsur-angsur pulih. Memang ketika dikonfirmasi ke keluarganya, saat itu ibu Evy sudah henti jantung dan dinyatakan meninggal oleh dokter. Wow, langsung merinding saya mendengar cerita ibu Evy.

Sambil meraih tissue untuk menyeka air mata yang menetes, ibu Evy melanjutkan. Setelah pulih, dia langsung melakukan janjinya kepada Tuhan untuk lebih taat beribadah, lebih sayang kepada keluarga, serta lebih banyak membantu orang lain (termasuk membantu saya siang itu dengan cukup satu kali angkat telepon) siapapun itu tanpa pandang bulu (terutama SARA dan strata sosial ekonomi). Ia sempat menyinggung situasi sekarang ketika masyarakat terpecah belah hanya karena merasa dirinya paling benar. “Apakah orang bisa memilih dilahirkan di rahim seorang ibu keturunan suku apa? Minta dilahirkan dalam keluarga kaya? Lahir di negara mana? Yang saya tahu mereka dan kita semua adalah makhluk ciptaanNya.” Begitu pertanyaan bu Evy menutup pembicaraan kita siang itu.

Terima kasih bu, sudah mau berbagi pengalaman. Semoga sehat terus dan menebarkan kebaikan kepada orang lain. Cerita ibu Evy mengingatkan saya kembali, apa hakikat kita dilahirkan sebagai manusia, yaitu untuk menolong sesama manusia lainnya.

Indahnya dunia seperti indahnya pelangi dengan berbagai warna… Betul?

sumber gambar 1, gambar 2

Kasih Uang Ke Petugas Pajak?

Ada kepercayaan para pengusaha yang perlu dipertanyakan keabsahannya : ‘Kalo ngurus ijin ke petugas harus kasih amplop supaya lancar dan tidak dipersulit.’

Nah, saya tipikal yang kurang suka dan kurang percaya dengan slogan itu. Pernah saya tanyakan langsung kepada seorang pengusaha yang sedang menunggu kedatangan survey petugas pajak dalam rangka pengajuan PKP perusahaannya. Kebetulan saya melihatnya memasukkan amplop putih tebal ke saku kemejanya. Iseng saya bertanya, “Pak, mau kasih buat petugas ya?” Jawabnya, “Iya pak, supaya lancar dan gak lama prosesnya.”

Mendapati jawabannya, saya langsung protes, “Wah, ini yang bikin lingkaran setan, kasihan khan pengusaha kecil yang modal seadanya harus siapkan dana untuk sesuatu yang seharusnya gratis karena sudah tugasnya. Atau di sisi petugas yang terbiasa menerima amplop, apakah suatu saat bila tidak diberi amplop dia akan tetap profesional?”
Jawabnya lagi sambil terkekeh, “Yah pak sudah umum kayak gini, yang penting ikhlas kita biar usaha cepat jalan.”

Ketika tiba giliran saya mengajukan PKP, saya iseng bertanya ke petugas pajak yang duduk di counter KPP pratama. “Pak, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk pengurusan PKP?”
Petugas itu menjawab,”Tidak ada pak, kenapa ya?”
“Saya beberapa kali mendengar dan pernah mendapati pengusaha yang menyiapkan amlop untuk petugas survey.”
Mendengar pernyataan saya, petugas tersebut langsung mengeluarkan pena dan bertanya “Nama perusahaan pengusaha tersebut dan nama petugasnya siapa pak? Kalau memang petugas kita ada yang meminta imbalan tolong laporkan, tetapi kalau dari pengusahanya yang memberi ya itu kebijakan petugas saja.”
Wah, ternyata serius juga masalah pemberian ini, pikir saya dalam hati.

Betul juga, ketika hari H dilakukan survey, sengaja saya siapkan amplop untuk petugas (masih muda) yang datang. Selesai wawancara dan melihat kelengkapan berkas, saya sempatkan untuk menyerahkan amplop tersebut yang ditolak halus olehnya. “Maaf pak, kita tidak bisa menerima seperti itu.”

“Wow, keren juga nih, apa karena masih muda dan idealis?” pikir saya dalam hati sambil mengingat beberapa hari sebelumnya terpaksa merogoh kocek untuk pungutan liar ketika mengurus surat keterangan domisili ke petugas paruh baya di kelurahan. Semoga ke depan para penerus pelayan masyarakat bisa terus profesional dan konsisten merevolusi mentalnya demi kemajuan Indonesia.

Aminn..