Usaha Kuliner, Untung atau Buntung?

Usaha kuliner sebelah kiri tutup, usaha kuliner sebelah kanan tutup.. Yang bertahan malah yang..

Advertisements

Baru saja saya kedatangan tamu di apotek saya, pemilik dan pengelola warung makan di dekat area apotek. Warung makannya mempunyai variasi menu yang kurang lebih sama dengan warteg dan disajikan menggunakan touch screen! Maksudnya untuk memilih menu tinggal tunjuk jari kita ke lauk di balik screen (kaca), hehe.. Saya bertanya kabarnya dan kelancaran usahanya, mengingat ada dua restoran di area yang sama tutup usahanya, yaitu restoran ayam bakar dan satunya lagi restoran bebek. Keduanya menyajikan variasi menu masakan Indonesia beraneka ragam dan bertempat di satu atau dua ruko yang direnovasi layaknya restoran berkelas.

warteg-touchscreen

Beliau bercerita bahwa banyak faktor yang membuat warungnya dan warteg di seberang jalan (masih di area yang sama), tetap ramai. Apalagi kalau bukan faktor konsumen pelanggan mereka. Menurut pandangan saya, penyantap kuliner mempunyai pangsa pasar yang lebih besar daripada penikmat kuliner. Yang dimaksud penyantap kuliner adalah makan untuk hidup, sedangkan penikmat adalah hidup untuk makan, hehe.. Maksudnya  masyarakat yang lebih memilih higienitas makanan, rasa yang di atas rata-rata, penyajian cantik yang menggugah selera, bahkan kadang mereka juga memilih atmosfer dan suasana tempat mereka bisa kongkow, ngobrol bisnis, kumpul arisan, bekerja dengan fasilitas wifi yang disediakan, dan lain-lain.
Seperti kita tahu bersama, para penyantap ini umumnya mempunyai keinginan yang harus dipuaskan ketika makan. Adalah rasanya enak, porsinya banyak, harganya murah, dapat gratisan pisang pula, haha.. Nah, analisis beliau pelanggan warungnya kebanyakan pekerja kantor dan pekerja lapangan yang maunya itu tadi, karena kalau dilihat sekilas ya warungnya merupakan prototype warteg-warteg yang apa adanya bukan ada apanya, haha..  Faktor higienitas nomor kesekian yang penting murah, enak, banyak, ya tho? Benar apa benar?

Pada prinsipnya beliau mengatakan bahwa usaha kuliner harus dikelola sendiri supaya bisa bertahan. Begitu jauh perbedaan apabila pemilik yang turun tangan langsung dibandingkan dengan karyawan. Pemikiran karyawan sederhana, yaitu hanya bekerja membantu pemilik untuk mendapatkan gaji. Kebalikan dengan pemikiran pemilik yang berusaha bagaimana caranya supaya usahanya tetap bertahan dan bahkan tumbuh lebih besar lagi. Saya langsung bertanya kira-kira sampai kapan harus dikelola sendiri? Beliau tidak bisa menjawab karena memang dari awal buka bertahun-tahun sampai sekarang, beliau masih turun tangan langsung di area pengolahan masakan.  “Waduh, kalau mikirnya gitu, gak bisa ngerjain usaha yang lain dong?”, pikir saya dalam hati. Saya mau jadi Business Owner, bukan Self Employee (lihat kuadran EBSI Rich Dad Poor Dad)

cashflow quadrant EBSI

Sekilas saya membandingkan restoran franchise yang berhasil maupun gagal. Mereka sama-sama punya sistem, mereka sama-sama teruji, sama-sama punya jalur distribusi, sama-sama punya training karyawan, tetapi mengapa ada yang gagal dan ada yang berhasil? Apa yang membedakannya?

Nantikan di tulisan saya berikutnya ya..

gambar1, gambar2

Author: Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s