Wisata Bukittinggi

Tanggal 26 Maret lalu, saya mempunyai kesempatan langka wisata sejarah dan pemandangan di kota Bukittinggi, kota sejuk di ketinggian 930m dari permukaan laut dan berjarak 150 menit (90km) dari ibukota Sumatera Barat,  Padang.
Nah langsung saja ya..
Perjalanan dari Padang bisa ditempuh dengan travel, taxy, maupun rental mobil.

image
Tarif Rental Mobil Bandara

Paling ekonomis adalah menggunakan travel dengan tiket seharga IDR 60ribu. Untuk mencapai travel ini Anda harus naik taksi (tenang ongkos taksi sudah termasuk tiket yang akan diganti oleh pihak travel)

Saya menginap di hotel Dymens, menurut info dari resepsionis dan perhitungan waktu yang saya punya, saya memilih berdasarkan urutan :
1.  Ngarai Sianok
Dengan angkot merah warna 014 & 015 saya bisa berhenti tepat di depan taman Panorama.
Tarif angkot jauh dekat sama yaitu IDR 3.000, -.  Murah ya, hehe..
Tarif masuk adalah IDR 5ribu.

image

Ngarai ini dalamnya sekitar 100 meter, membentang sepanjang 15 km dengan lebar 200 meter. Pemandangan yang indah dan semilir angin yang sejuk membuat Anda betah berlama-lama di sini.

image

2. Lubang Jepang

Ngarai Sianok bersebelahan dengan Lubang Jepang. Kenapa disebut Lubang? Karena merupakan buatan manusia (para pekerja lokal dari Jawa, Sulawesi dan Kalimantan yang diperintahkan oleh tentara Jepang untuk membuat tempat perbekalan dan perlengkapan).
Seperti yang kita tahu dari pelajaran sejarah, ketika Jepang menduduki tanah air, kota ini menjadi pusat militer tentara Jepang di Indonesia. Banyak cerita memilukan yang diutarakan oleh pemandu (Anda membayar sekitar IDR 60ribu untuk tour sekitar 20 menit berkeliling di dalam kompleks) tentang para pekerja paksa (Romusha) yang meninggal saat pembangunan fasilitas ini.

Lubang yang mempunyai panjang 1400 m, lebar 2 m dan kedalaman mencapai 49 m di bawah permukaan tanah ini dibangun selama kurang lebih 3 tahun

image

image
Denah Peta Lobang Jepang
image
Jogging di sini yuk..

Pemandu menceritakan betapa rahasianya proyek ini, sehingga pekerja pun didatangkan dari luar pulau, dan apabila ada pekerja yang meninggal mayatnya akan dipotong-potong di ruangan Dapur dan kemudian dibuang ke lubang di bagian bawah yang mengarah langsung ke Ngarai Sianok. Kenapa dipotong? Supaya tidak nyangkut di lubang. Hiiyy..

image
Lebih horror dari yang Anda lihat di foto

Tapi pengakuan berbeda dikeluarkan oleh salah satu staf tentara Jepang saat itu :

Tak Ada Kerja Paksa

ADALAH Hirotada Honjyo, lahir 1 Januari 1908, di kota kecil Iizuka, Provinsi Fukuoka, Kepulauan Kyushu, Jepang Selatan. Tamatan Fukultas Hukum, Hosei University, Tokyo, penggemar olahraga rugby ini, bekerja di perusahaan tambang batu bara, Asou Koggyo. Ia beroleh pengetahuan dasar tentang pertambangan dan terowongan. Berikut ini penuturannya yang ditulis tanggal 17 April 1997. Ia meninggal dunia tahun 2001.

Honjyo-san harus membuat “lubang perlindungan” di Ngarai Bukittinggi, atas instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Bala Tentera Jepang, Letjen Moritake Tanabe. Waktu itu, ia berpangkat Kapten Angkatan Darat, perwira staf keuangan, sebagai jurubayar, untuk merencanakan, membuat dan mengawasi pelaksanaan sebuah “lubang perlindungan”.

Semua berkas mengenai rencana, gambar, spesifikasi dan anggarannya, sudah tidak ada lagi. Semua dibakar sesaat balatentara Jepang kalah, tanggal 15 Agustus 1945, sesuai perintah Panglima Letjen Moritake Tanabe. “Walaupun telah lewat 50 tahun lebih, saya masih ingat menggambarkan dan menyatakan cara pembuatan dan perencanaan pelaksanaan lubang lindungan tersebut,” kata Hojyo-san.

Konstruksinya mulai dikerjakan bulan Maret 1944, dan selesai pada awal Juni 1944. “Hal ini tidak bisa saya lupakan, karena sampai sekarang ada album kenang-kenangan yang saya simpan,” katanya. Pembuatan terowongan  dikerjakan di bawah pimpinan tiga ahli tambang batubara, dikirim dari perusahaan Hokkaido — Tanko Kisen Co. Perusahaan tambang batu bara terkenal di Hokkaido ini selama pendudukan balatentera Jepang, juga mengerjakan tambang batubara Ombilin.

Ketiga ahli terowongan itu adalah (1) Ir. Toshihiko Kubota, sebagai ketua, (2) Ir. Ichizo Kudo (3) Ir. Uhei Koasa. Mereka sudah meninggal. Selain dari orang-orang Jepang, ada juga beberapa orang Indonesia yang bekerja di tambang batubara Ombilin diperbantukan mengerjakan “lubang perlindungan” ini.

Saya adalah seorang perwira staf keuangan, sebagai ahli jurubayar dan selama bertugas tidak menggunakan kekuasaan tentara dan fasilitas lainnya,” kata Honjyo-san. “Kepada saya diperbantukan seorang sersan dari Markas Besar Panglima dan beberapa lori untuk keperluan angkutan kerja”.

Selama tiga bulan bertugas, katanya, tidak ada terjadi insiden atau kecelakaan. Dan selama bertugas tidak menggunakan senjata, baik senjata berupa pedang samurai maupun senjata api lainnya. “Lubang perlindungan Jepang” itu tidak merupakan benteng pertahanan. tapi hanyalah lubang untuk melindungi diri. Supaya terhindar dari serangan bahaya udara.

Instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang itu menyebutkan lagi: (1) membuat sebuah lubang perlindungan yang bisa menahan getaran letusan bom sekuat 500kg. (2) membuat lubang perlindungan yang dilengkapi dengan ruangan-ruangan untuk keperluan Markas Besar, ruang kantor dan fasilitas-fasilitas lainnya untuk keperluan Divisi ke-25 Angantan Darat.

Konstruksi lubang perlindungan tersebut tidak rahasia dan tidak ada yang perlu dijaga. Untuk bisa menahan getaran letusan bom di atas 500kg, perlu  penggalian sedalam 40-meter dari permukaan bumi atau 20-m dari ujung penggalian jurang tebing. Untuk menguatkan dan kokohnya dinding lubang, dibuat bentuk “torii-gumi” — menyerupai pintu depan lambang agama Shinto. Yaitu bagian bawah lebih besar daripada bagian atas.

Sumber : ED Zoelverdi

image
Pintu keluar sisi samping

Sesampainya di pintu keluar, saya memutuskan untuk menggunakan jasa ojek untuk mengantar saya ke beberapa destinasi untuk menghemat waktu.

Tips hemat ala saya :
1. Apabila Anda datang sendiri atau hanya berdua dan merasa keberatan dengan tarif pemandu (antara 60ribu sd 80ribu, tergantung penawaran dan permintaan tips tambahan dari si pemandu, hehe..), Anda bisa mendengarkan penjelasan pemandu dengan mengikuti rombongan lain yang cukup besar (dari jarak agak jauh, tentunya! supaya tidak dianggap nebeng gratisan padahal iya haha..!)2. Jangan malu bertanya, Anda akan hemat tenaga dan waktu (daripada tersesat dan harus kembali keluar naik tangga lagi haha)

2. Benteng Fort De Kock

image

Benteng ini bersebelahan dengan taman margasatwa dan budaya Kinantan

3. Jam Gadang

image

Jam yang merupakan pemberian ratu Belanda dan dibangun di tahun 1926 ini mempunyai keunikan di angka 4 yang terlihat angka romawi IIII bukan IV, karena berdasarkan cerita ada empat orang pekerja yang meninggal selama pembangunan menara ini.
Untuk mencapainya Anda bisa menggunakan angkot trayek 03 dan 06.

4. Pustaka Bung Hatta

Berlokasi di Bukit Gulai Bancah, bersebelahan dengan kompleks kantor walikota.

image

5.  Kantor Walikota

image

image

Tips hemat ala saya :
1. Hemat waktu dan tenagaApabila waktu Anda terbatas, dan Anda hanya ingin sightseeing saja, Anda bisa menggunakan jasa ojeg untuk berkeliling, termasuk ke kawasan Bukit Gulai Bancah. Dengan tarif sekitar 40-50ribu (rute Lobang Jepang – Benteng Fort De Kock – Jam Gadang – Pustaka Nasional – Kantor Walikota – kota (hotel)
Waktu yang saya tempuh kurang dari 2 jam untuk menikmati semua yang saya sebutkan di atas.
2. Hemat uang
Apabila waktu Anda panjang, Anda bisa sediakan uang receh seribuan dan dua ribuan di kantong Anda untuk menghindari alasan tidak ada kembalian dari sopir angkot, hehe..
Cukup dengan berkeliling naik angkot, Anda bisa mengunjungi semua tempat wisata di atas, kecuali ke Bukit Gulai Bancah yang mengharuskan Anda berganti 2 kali angkot (kecuali Anda sedang program diet dan bawa baju ganti supaya sampai lokasi, bayangan keringat di ketiak Anda tidak mengganggu penampakan selfie, hehe..)

Advertisements

Author: Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s