Resiko Usaha (Contoh Kasus Hukum Pembatalan Sepihak Disertai Ancaman)

Dalam memulai suatu pekerjaan / proyek, pasti ada resiko yang akan dihadapi oleh penyelenggara maupun pelaksana. Meskipun resiko bisa diminimalisir, tetap saja tidak dapat menihilkan resiko-resiko lain yang muncul di luar dugaan maupun di luar usaha manusia seperti Force Majeur bencana alam, topan badai, dll.

Baru kemarin kami dapat klien yang tidak mau menanggung resiko sama sekali. Dengan tenggat waktu yang sempit, klien ini sudah menghubungi beberapa supplier tanpa hasil, akhirnya menghubungi kami. Rupanya klien ini dapat proyek untuk mengirim batu split sampai ke Jakarta dengan tenggat waktu maksimal jam 05.00 pagi keesokan harinya, yang tidak diberitahukan di awal perjanjian kepada kami. Dengan prasangka baik, dan menjunjung profesionalisme kami menyanggupi pekerjaan itu (tanpa mengetahui deadline dan resiko-resikonya) setelah klien mengirimkan uang muka sebesar 50% dan PO / Purchase Order sekitar pukul 20.00 WIB (tertera di PO, pengiriman dilakukan 1 hari setelah PO keluar).

Masalah mulai muncul ketika pengiriman tidak sampai tujuan tepat pada waktu yang diinginkan oleh klien. Tiba-tiba klien membatalkan perjanjian secara sepihak dan meminta uang muka dikembalikan sepenuhnya. Klien beralasan belum menerima barang sama sekali dan malah menuduh kami melakukan penggelapan uang perusahaan.

Kami bingung, truk sudah melaju di aspal semalaman dari Bojonegara, Banten (berisikan batu split, tentunya), sebagian sudah sampai di Balaraja tetapi karena driver kelelahan dan memperhitungkan faktor keselamatan mereka memutuskan beristirahat. Dan sebagian memutuskan beristirahat di Serang karena waktu yang tidak memungkinkan untuk memasuki jam protokol Jakarta (jam 22.00 sd jam 05.00 WIB).

Klien datang keesokan harinya untuk melihat truk-truk tersebut (setelah pembatalan sepihak olehnya), tetapi tetap menuduh kami tidak profesional, bahkan menuduh truk-truk itu kosong isinya! Dia bersikeras untuk meminta seluruh DP yang diberikan disertai ancaman akan membawa-bawa kepolisian dengan tuduhan penggelapan. Akhirnya kami sepakat untuk mengembalikan 2/3 (dua pertiga) dari total DP yang dikirimkan, meskipun kami masih mengalami kerugian.

Melalui konsultasi kami dengan beberapa kuasa hukum, kami tidak diharuskan mengembalikan uang muka karena pembatalan bukan dari pihak kami. Toh, batu sudah termuat dan truk sudah berjalan, lalu siapa yang akan menanggung biaya operasional yang sudah berjalan? Belum lagi penjualan batu yang sudah termuat, siapa pula yang akan menerima?

Yang kami sayangkan adalah ancaman-ancaman yang diberikan klien ini, Sebegitu rendahnya kah nilai hukum di mata dia? Pasal penggelapan apa yang dia maksud? Apakah bisa kami tuntut balik dengan pasal ancaman dan penghinaan Pasal 310 s.d 321 KUHP? Sebegitu rendahkah nilai aparat hukum di mata dia? Dengan kata-kata “Saya telepon kepolisian di mabes, tinggal ciduk saja pelaku penggelapan ini”. Demikiankah prosedur hukumnya? Hanya dengan sekali telepon bisa langsung menangkap seseorang?

Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

Author: Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu

One thought on “Resiko Usaha (Contoh Kasus Hukum Pembatalan Sepihak Disertai Ancaman)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s