Pengertian Goblok di Mata Alm. Bob Sadino

Selamat jalan om Bob.
Berikut saya kutip beberapa pandangan beliau..

“Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain”

“Banyak orang bilang saya gila, hingga akhirnya mereka dapat melihat kesuksesan saya karena hasil kegilaan saya”

“Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnnya tidak ada satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan”

“Saya bisnis cari rugi, sehingga jika rugi saya tetap semangat dan jika untung maka bertambahlah syukur saya”

“Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif”

“Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar”

“Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu”

“Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya nggak pernah mikir karena cuma melangkah saja. Ngapain mikir, kan cuma selangkah”

“Orang goblok itu nggak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah”

“Orang pintar maunya cepat berhasil, padahal semua orang tahu itu impossible! Orang goblok cuma punya satu harapan, yaitu hari ini bisa makan”

“Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok itu berjuang keras untuk sukses bisa bisa bayar pelamar kerja”.

Advertisements

Resiko Usaha (Contoh Kasus Hukum Pembatalan Sepihak Disertai Ancaman)

Dalam memulai suatu pekerjaan / proyek, pasti ada resiko yang akan dihadapi oleh penyelenggara maupun pelaksana. Meskipun resiko bisa diminimalisir, tetap saja tidak dapat menihilkan resiko-resiko lain yang muncul di luar dugaan maupun di luar usaha manusia seperti Force Majeur bencana alam, topan badai, dll.

Baru kemarin kami dapat klien yang tidak mau menanggung resiko sama sekali. Dengan tenggat waktu yang sempit, klien ini sudah menghubungi beberapa supplier tanpa hasil, akhirnya menghubungi kami. Rupanya klien ini dapat proyek untuk mengirim batu split sampai ke Jakarta dengan tenggat waktu maksimal jam 05.00 pagi keesokan harinya, yang tidak diberitahukan di awal perjanjian kepada kami. Dengan prasangka baik, dan menjunjung profesionalisme kami menyanggupi pekerjaan itu (tanpa mengetahui deadline dan resiko-resikonya) setelah klien mengirimkan uang muka sebesar 50% dan PO / Purchase Order sekitar pukul 20.00 WIB (tertera di PO, pengiriman dilakukan 1 hari setelah PO keluar).

Masalah mulai muncul ketika pengiriman tidak sampai tujuan tepat pada waktu yang diinginkan oleh klien. Tiba-tiba klien membatalkan perjanjian secara sepihak dan meminta uang muka dikembalikan sepenuhnya. Klien beralasan belum menerima barang sama sekali dan malah menuduh kami melakukan penggelapan uang perusahaan.

Kami bingung, truk sudah melaju di aspal semalaman dari Bojonegara, Banten (berisikan batu split, tentunya), sebagian sudah sampai di Balaraja tetapi karena driver kelelahan dan memperhitungkan faktor keselamatan mereka memutuskan beristirahat. Dan sebagian memutuskan beristirahat di Serang karena waktu yang tidak memungkinkan untuk memasuki jam protokol Jakarta (jam 22.00 sd jam 05.00 WIB).

Klien datang keesokan harinya untuk melihat truk-truk tersebut (setelah pembatalan sepihak olehnya), tetapi tetap menuduh kami tidak profesional, bahkan menuduh truk-truk itu kosong isinya! Dia bersikeras untuk meminta seluruh DP yang diberikan disertai ancaman akan membawa-bawa kepolisian dengan tuduhan penggelapan. Akhirnya kami sepakat untuk mengembalikan 2/3 (dua pertiga) dari total DP yang dikirimkan, meskipun kami masih mengalami kerugian.

Melalui konsultasi kami dengan beberapa kuasa hukum, kami tidak diharuskan mengembalikan uang muka karena pembatalan bukan dari pihak kami. Toh, batu sudah termuat dan truk sudah berjalan, lalu siapa yang akan menanggung biaya operasional yang sudah berjalan? Belum lagi penjualan batu yang sudah termuat, siapa pula yang akan menerima?

Yang kami sayangkan adalah ancaman-ancaman yang diberikan klien ini, Sebegitu rendahnya kah nilai hukum di mata dia? Pasal penggelapan apa yang dia maksud? Apakah bisa kami tuntut balik dengan pasal ancaman dan penghinaan Pasal 310 s.d 321 KUHP? Sebegitu rendahkah nilai aparat hukum di mata dia? Dengan kata-kata “Saya telepon kepolisian di mabes, tinggal ciduk saja pelaku penggelapan ini”. Demikiankah prosedur hukumnya? Hanya dengan sekali telepon bisa langsung menangkap seseorang?

Bagaimana menurut Anda?

Why School Kill Creativity – Ken Robinson

What these things have in common is that kids will take a chance. If they don’t know, they’ll have a go. Am I right? They’re not frightened of being wrong. Now, I don’t mean to say that being wrong is the same thing as being creative. What we do know is, if you’re not prepared to be wrong, you’ll never come up with anything original — if you’re not prepared to be wrong. And by the time they get to be adults, most kids have lost that capacity. They have become frightened of being wrong. And we run our companies like this, by the way. We stigmatize mistakes. And we’re now running national education systems where mistakes are the worst thing you can make. And the result is that we are educating people out of their creative capacities. Picasso once said this — he said that all children are born artists. The problem is to remain an artist as we grow up. I believe this passionately, that we don’t grow into creativity, we grow out of it. Or rather, we get educated out if it. So why is this?