Segarnya Bisnis Sayur Organik

Menjadi karyawan dengan jabatan tinggi di perusahaan multinasional, tidak menyurutkan langkahnya untuk mundur dan menjadi pengusaha

Advertisements

Bekerja di perusahaan finansial berskala multinasional tak membuat Benny Sanusi terlena. Status “Pegawai” yang disandang Benny menyadarkannya bahwa masa produktif seorang pegawai ada batasnya. Apalagi banyak karyawan baru yang berstatus fresh graduate – yang disebut Benny sebagai Darah Muda – yang bekerja di perusahaannya. Secara perlahan, para pegawai muda penuh bakat ini menggeser peran dan posisi para senior. Jauh sebelum masa pensiun, ia sudah merencanakan langkah untuk menjadi entrepreneur. Sebuah pilihan, yang menurut orang-orang terdekat Benny, dinilai cukup berisiko.
Rasa cintanya pada dunia pertanian membuatnya berani mengajukan resign dari sebuah perusahaan multinasional saat karir di puncak, untuk merintis kebun organik. Dalam waktu dekat, ia menargetkan akan mengekspor sayur dan buah organiknya ke Singapura.

Sedari dulu, di antara rekan kerjanya, Benny Sanusi terkenal freak akan sayuran organik. Setiap ada kesempatan, ia akan selalu menjelaskan kelebihan sayuran organik kepada teman-temannya. Bahkan, di jok belakang mobil milik pria kelahiran 22 Mei 1957 ini dipenuhi dengan berkas-berkas pertanian organik. Padahal, Benny bekerja di sebuah perusahaan finansial berskala multinasional. Bukan di perusahaan yang berkaitan dengan pertanian dan perkebunan.
“Saya 23 tahun berkarir di JP Morgan. Sejak 1981 hingga 2003. Pada tahun 2000 sebenarnya sudah mengajukan pengunduran diri, tapi nggak dikasih sama perusahaan,” cerita Benny.

Setidaknya, Benny sudah 23 tahun berkarir di JP Morgan, sebuah perusahaan finansial yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. Ia memulai karir dari bawah. Sebagai seorang staf administrasi. Sementara itu, jabatan terakhir yang diembannya setara posisi asisten manajer. “Saya bekerja di JP Morgan sejak 1981 dan resmi berhenti pada 2003,” terang Benny.

Sejatinya, sudah sejak tahun 2000, dirinya mengajukan pengunduran diri. Namun, karena Benny masih dibutuhkan di perusahaan, proses mundur pun harus tertunda. Namun, sejak tahun 2000, hati Benny sudah berpaling ke Mega Mendung, tempat lahan organiknya berada. Sembari bekerja, ia mempelajari seluk beluk tanaman organik, termasuk manfaat sayuran organik bagi tubuh. Di mata teman-temannya, Benny dikenal freak akan sayuran organik. Bahkan, mobilnya dipenuhi berkas mengenai sayuran organik.
Sebenarnya, Benny terlebih dulu berkenalan dengan dunia pertanian lewat sistem penanaman hidroponik. Seorang kawan memperkenalkan sistem itu. Tapi, di tengah penjajakan atas dunia hidroponik, Benny justru kepincut pesona sayuran organik. “Saya belok dikit ke pertanian organik,” terang Benny, terkekeh.

Waktu itu, ia menyediakan modal Rp100 juta, hasil dari tabungan semasa bekerja, untuk membeli sepetak lahan di Desa Sukagalih, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor. Lahan seluas 5.000 meter persegi ini memiliki latar belakang Gunung Gede Pangrango. Jadi, selain menjadi tempat usaha, lahan ini juga menjadi “tempat rekreasi” Benny dari rutinitas sehari-hari. “Saya termasuk nekat masuk dunia organik. Soalnya, saya tidak punya latar belakang pertanian. Trial dan error saja lah,” kata dia. Tapi, kalo bicara soal pemasaran hasil kebun organiknya, Benny tak ada lawan. Ia begitu fasih menjual brokoli organiknya. Sebab, ia punya segudang pengalaman berdagang, mulai berjualan baju sampai sepeda saat masih bekerja kantoran. Benny membocorkan, konsumen pertama hasil kebun organiknya adalah kawan-kawannya sendiri di JP Morgan. “Sampai sekarang mereka masih setia membeli sayuran organik dari kebun saya,” kata Benny, bungah.

Dari Arisan ke Arisan
Perjalanan bisnis memang tak semulus kulit terong. Selain pernah gagal panen perdana, kebun organik Benny juga penah hancur tersapu angin putting beliung. Kondisi alam dan cuaca memang kerap menjadi kendala.
Tantangan lain yang ia hadapi adalah masih minimnya kesadaran masyarakat akan manfaat sayuran organik. Apalagi harga sayuran organik lebih mahal ketimbang sayuran non organik. “Waktu saya mulai usaha ini, banyak yang belum paham apa itu organik. Belum lagi mereka suka protes karena harganya lebih mahal tapi kondisi sayur tak secantik sayur non organik,” kenang Benny. Memang, penampakan sayur organik tak seindah sayur non organik. Oleh karena tak disemprot pestisida, kadang kala ulat pun tak segan untuk ikut mencicipi sayuran itu. Alhasil, daun selada pun menjadi bolong-bolong. Tapi, justru itu kelebihan sayur organik: aman dikonsumsi.

Untuk memasarkan produk sayuran organiknya, yang diberi merek Benny’s Organic Garden, Benny mengadopsi pola marketing farmers market, gaya petani negeri Paman Sam. Ia menjual secara langsung hasil buminya ke konsumen. Selain ke perkantoran, ia juga menjajakan ke perumahan, serta rajin mengikuti arisan, dan segala macam kegiatan yang banyak didatangi kaum hawa, terutama kalangan ekspatriat. Benny tak merasa malu atau jengah saat menawarkan sayur di depan ibu-ibu peserta arisan. “Ketika saya mendatangi konsumen secara langsung, saya bisa berkomunikasi dengan mereka. Bersentuhan langsung dan membangun relasi yang baik dengan konsumen,” kata ayah dua putra ini. Walhasil, konsumen pun loyal pada produk Benny’s Organic Garden.
Benny mengaku pernah mendistribusikan produknya ke supermarket. Tapi, ia kurang sreg dengan sistem pembayaran yang digunakan. “Mereka menganut sistem pembayaran tunda. Ini cukup merepotkan saya, karena bayaran petani tak bisa dengan sistem tunda,” keluh pria berkacamata yang sedang asyik menulis buku.
Saat ini lahan perkebunan organiknya sudah mencapai 1,3 hektar, berbagai jenis sayuran seperti bayam merah dan hijau, brokoli, buncis, kacang merah, tomat, berbagai macam sayuran Jepang, sampai wortel yang jadi primadona Benny’s Organic Garden. “Targetnya sampai 20 jenis tanaman, namun tergantung musim juga. Dan yang mengolah kebun organik tidak bisa monokultur atau hanya menanam satu jenis tanaman, namun harus beberapa macam,supaya jika satu gagal panen masih ada jenis lainnya,” jelas pria kelahiran 22 Mei 1957 ini.

Walau omzetnya tiap bulan masih terbilang kecil, tetapi Benny begitu menikmati pilihannya menjadi petani. “Justru banyak yang bilang saya tampak lebih segar sekarang,” katanya, dengan senyum terkembang. Ia memiliki kebebasan waktu untuk menentukan ritme kerjanya sendiri, kendati ia sempat mengalami jetlag ketika memutuskan menjadi petani. Beradaptasi dengan budaya petani yang jauh dari kehidupan glamor, bergulat dengan kotornya tanah dan teriknya matahari, serta harus mengencangkan ikat pinggang di awal usahanya menjadi perjuangan tidak hanya bagi Benny namun juga bagi kedua putranya. “Awalnya anak-anak saya senang kalau saya pulang membawa hasil pertanian, namun mereka juga protes karena jadi jarang saya ajak jalan-jalan ke mall,” kenang Benny yang kerap diundang sebagai pembicara di berbagai seminar dalam kapasitasnya sebagai ‘petani’ organik.

Tidak pernah terbersit kata menyesal dalam benak Benny. Menjadi petani bagi Benny adalah sebuah pilihan tepat. Buku, internet, dan kegemarannya berguru dengan berbagai orang yang sudah lebih ahli soal organik menjadi jendela pengetahuan baginya. Termasuk dalam soal pengelolaan perkebunan organiknya sebagai sebuah usaha yang mengejar profit, ujarnya, “Prinsipnya dalam bisnis, buy low sell high, itu yang saya jalankan. Soal pemilihan timing dan karakter bisnis prosesnya learning by doing bahkan sampai detik ini.” Targetnya, Benny ingin mengekspor sayuran organiknya, ia sedang menjajaki kemungkinan merambah pasar Singapura dengan terlebih dulu melakukan penetrasi pasar ke Batam yang notabene dekat dengan Singapura.

Potensi Bisnis Tutup Galon Air Minum

Bisnis dengan margin kecil tapi menjanjikan

Minat masyarakat untuk menggunakan air galon isi ulang ternyata membawa peluang bisnis bagi produsen tutup galon. Bahan baku tutup galon bisa diperoleh dari limbah plastik. Asal jeli menggaet pasar, bisnis ini cukup menguntungkan. Problem ketersediaan air bersih yang sering muncul di perkotaan membuat bisnis depo isi ulang air kemasan tumbuh subur. Selain harganya lebih murah, konsumen air isi ulang ini lebih praktis. Selain pemilik depo dan pengusaha tangki pemasok air, ternyata ada pebisnis lain yang tak kalah menikmati rezeki: produsen tutup galon.

Para produsen tutup galon bak mendapat durian runtuh dari peningkatan konsumen air isi ulang. Belly Yoshuanta, produsen tutup galon di Surabaya, mengaku bisnisnya mulai ramai sejak kebutuhan orang akan air bersih meningkat. “Kesadaran masyarakat tentang hidup sehat mulai terlihat,” papar dia.

Menurut pengusaha tutup galon yang sudah merintis bisnis sejak tahun 2000 ini, tren permintaan tutup galon mulai naik sejak 2008. Pembeli tutup galon biasanya pabrik-pabrik air galon di luar Jawa. “Sebagian home industry yang mulai merintis bisnis,” jelas Belly.
Penuturan senada meluncur dari Hendrita Amir, pemilik CV Orchidqua di Bekasi. Pengusaha yang memulai bisnis pembuatan tutup galon sejak 2003 ini mengaku permintaan tutup galon semakin tinggi. “Kami tak bisa memenuhi permintaan pasar,” ujar dia.

Saat ini kapasitas produksi pabrik Hendrita mencapai 3 juta keping tutup botol sebulan. Padahal, order yang masuk ke pabriknya mencapai 5 juta keping per bulan. “Permintaannya jauh lebih banyak dari pasokan kami,” kata dia.
Arifien Husen, pemilik H2 Jaya Plastindo dari Surabaya, bisa menjual tutup galon mencapai 70.000 biji per bulan. Pelanggan pengusaha yang memulai produksi tutup galon pada tahun 2008 itu berasal dari Surabaya dan wilayah luar Jawa. “Sebanyak 50.000 pieces dipesan dari luar Jawa, sisanya dari Surabaya,” ujar dia.

Permintaan tutup galon dari luar Jawa kata Hendrita berasal dari Kalimantan dan Sulawesi, meski pasar di Indonesia timur juga tak kalah besar. Sebab, air di sana kebanyakan air payau. Alhasil, air layak konsumsinya memang kecil.
Tak heran, omzet dari produsen tutup galon ini cukup besar. Hendrita, misalnya, mengaku rata-rata omzet tiap bulan mencapai Rp 200 juta – Rp 300 juta. Harga jual dari tutup galon produksinya berkisar Rp 65 – Rp 300 per biji. “Tergantung bahan dan kualitas,” ujar dia.

Arifien menjual tutup galon seharga Rp 80 – Rp 90 per biji. Artinya, dengan produksi hingga 70.000 keping per bulan, omzet Arifien bisa mencapaiRp 5,6 juta – Rp 6,3 juta. “Kami memang baru menghasilkan sebanyak itu,” ujar dia.
Dengan volume penjualan kurang lebih 300.000 biji per bulan, Belly mengaku menjual dengan harga lebih mahal. “Harga jual tutup galon isi ulang Rp 210 per biji,” ujar dia. Sedangkan harga tutup galon dengan standar kualitas air minum bermerek mencapai Rp 270 per keping. Omzet per bulannya mencapai Rp 63 juta – Rp 81 juta. Saat sedang ramai, dia mengaku bisa meraup omzet sampai Rp 1 miliar.

Puncak permintaan tutup galon, menurut para pelaku, adalah saat musim kemarau tiba. Saat musim hujan, biasanya permintaan tutup galon ikut menurun. “Tapi, penurunannya tidak terlalu siginifikan,” ujar Hendrita.

Margin tipis

Meski secara volume besar, margin bisnis ini sangat tipis. Maklum, biaya produksi tutup galon cukup gede, terutama di bahan baku dan biaya listrik. Hendrita misalnya, hanya mampu mengambil margin 10% dari total omzet. Begitu juga Arifien yang mengambil sekitar 22% – 25%. “Keuntungan bersih per keping hanya Rp 20,” ujar dia. Sedangkan Belly mengaku mendapatkan margin bersih sebesar 15% – 20% dari omzet.

Biaya bahan baku produksi tutup galon bisa memakan sampai 50% dari total pengeluaran. Hendrita mengaku mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp 9 juta – Rp 12 juta sebulan. Maklum, mesin memang membutuhkan tenaga listrik cukup besar. “Sisanya adalah biaya buruh dan lain-lain,” tuturnya.
Sebenarnya, proses produksi tutup galon bisa menggunakan mesin diesel seperti yang dilakukan Arifien. “Dalam sehari kami bisa menghabiskan 8 liter solar,” tutur dia. Dengan memiliki empat mesin produksi, dalam sehari, ia bisa menghasilkan 4.000 tutup galon.

Jika tertarik memulai bisnis ini, Anda harus menyiapkan dana untuk membeli dua mesin produksi, yakni mesin inject dan mesin cetak tutup galon. Harga satu mesin inject seken buatan Jepang sekitar Rp 1 juta. Jika membeli baru, harganya Rp 3 juta – Rp 4 juta. Harga mesin cetak baru sekitar Rp 30 juta. “Sebaiknya lebih dari satu mesin biar kapasitas produksi besar,” ujar Hendrita.

Hendrita memperkirakan, untuk memulai bisnis ini dengan skala menengah, Anda membutuhkan modal sekitar Rp 130 juta – Rp 180 juta. jika skala produksinya besar, sekitar 1 juta sampai 3 juta biji per bulan, kebutuhan mungkin bisa sampai Rp 1 miliar.
Tapi, jika Anda ingin produksi mulai kecil, kebutuhan modal memang tidak banyak. “Modalnya sebesar Rp 8 juta – Rp 15 juta pun cukup,” ujar Arifien. Tentu saja dengan modal secekak itu Anda hanya bisa memperoleh mesin-mesin bekas. Anda juga harus menyiapkan lahan untuk lokasi pabrik. “Dibutuhkan kurang lebih 6 meter x 4 meter,” ujar Hendrita.

Bahan baku dari limbah

Cara membuat tutup galon terbilang mudah. Anda tidak perlu mempekerjakan pegawai dengan keahlian khusus, asalkan bisa mengoperasikan mesin. Kebutuhan tenaga kerja tergantung dari jumlah mesin. Kata Arifien, satu mesin membutuhkan minimal satu pekerja. Tapi, Hendrita bilang, satu mesin idealnya dioperasikan tiga pekerja.

Bahan baku tutup galon berasal dari limbah plastik yang sudah diolah. Untuk mendapat bahan baku ini, Anda bisa bekerja sama dengan pengepul sampah plastik.

Anda juga bisa menggunakan biji plastik. Tapi, harga biji plastik kelewat mahal sehingga harga jual Anda tidak kompetitif. Maklum, bahan baku biji plastik biasanya didatangkan dari Singapura dan Thailand. Salah satu pengusaha yang menggunakan bahan baku ini adalah Belly. Tak heran, harga jual tutup botol bikinannya Rp 210 per keping, lebih mahal daripada bahan limbah plastik yang hanya Rp 80 per biji.

Hendrita bilang, para pengepul biasanya menjual limbah plastik dalam bentuk cacahan. Harga bahan baku yang belum diolah antara Rp 6.500 – Rp 7.000 per kg. Jika sudah cacahan, harganya antara Rp 8.000 – Rp 8.500 per kg.
Meski begitu, Anda bisa saja mengolah sendiri bahan baku plastik. Tahap pertama, memilah sampah plastik sesuai warna. Setelah itu, baru Anda mencacah, dicuci, dan dikeringkan. Setelah kering, cacahan siap diolah jadi tutup galon.

Bahan baku sangat menentukan kualitas tutup galon. Tutup berkualitas bagus biasanya lentur. “Bahan baku berjenis LD sangat bagus dan harga jualnya mahal,” ujar dia. Karena itu, saat membuat cacahan plastik, pemilahan limbah plastik sangat penting.

Jika semua lancar, Hendrita bilang, balik modal bisnis ini bisa dalam setahun. Tapi, jika memang belum mendapatkan pasar, waktu balik modal bisa lebih lama. Beberapa pengusaha bisnis mengaku tak mencermati masa balik modal karena , biasanya hasil penjualan langsung mereka gunakan lagi untuk menambah kapasitas produksi.

sumber

Bisnis Sarung Tangan

Satu lagi bisnis dari ide sederhana

Apakah Anda pernah memakai sarung tangan dan merasakan jari Anda susah bergerak  dan merasakan benda yang Anda pegang di dalam sarung tangan itu?

Kondisi inilah yang menginspirasi Kathryn KK Gregory yang pada 1994 saat berusia 10 tahun menciptakan wristies, sarung tangan tanpa jari. Meski tanpa jari, sarung tangan ini tetap bisa berfungsi untuk menjaga pergelangan tetap hangat dan jari-jari tetap bebas bergerak. Bagaimana wristies tercipta? Setelah badai salju New England, KK bermain di halaman rumahnya membangun sebuah benteng salju bersama adiknya. Meski sudah mengenakan pakaian musim dingin, KK merasa frustrasi karena salju terus jatuh di atas lengan mantelnya.

Kemudian, dia masuk rumah. Ibunya menyarankan agar KK menjahit sesuatu antara lengan dengan sarung tangan. Dengan bantuan ibunya, dia menjahit beberapa bulu sintetis ke dalam silinder, pas di atas lengan dan tangannya. Karena ingin agar jari-jarinya terbebas dari sarung tangan, KK memotong celah jari-jarinya. Dari situlah muncul ide untuk membuat sarung tangan yang tetap bisa menghangatkan pergelangan tangan, tetapi tidak mengganggu jari-jari untuk bergerak. Akhirnya gadis kecil ini menciptakan wristies yang dipakai di bawah mantel.

Wristies bisa digunakan dengan atau tanpa sarung tangan. Untuk menguji ketangguhan wristies, Kathryn meminta bantuan pasukan pramukanya. Siapa sangka hasil penemuan yang tidak disengaja itu di bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit. Penemuan KK akhirnya dipatenkan dan memakai merek namanya sendiri “KK”. Kala memulai bisnis di usia muda, KK banyak mengalami tantangan. Hal tersulit yang dihadapi tentu saja membuatnya serius. Karena usianya yang masih muda, dia tidak mampu memimpin usaha, sehingga membutuhkan bantuan sang ibu.

Hal ini membuat munculnya anggapan bahwa ide wristies datang dari sang ibu. Perjalanan waktu terbukti bahwa wristies merupakan ide asli KK. Bahkan kala masih belia, dia secara gigih memasarkan hasil temuannya. Cara pemasaran pertama adalah dengan setia memakai wristies di pergelangan tangannya sendiri. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan dan keingintahuan orang yang melihatnya. Dia menerapkan prinsip pemasaran “Pakai produk Anda, gunakan produk Anda dan berbicaralah tentang produk Anda”. Dengan cara itulah, dia membangun label KK.

Tantangan lain yang dihadapinya adalah banyaknya godaan yang menghampiri. Godaan itu datang sejumlah teman bahkan tidak sedikit yang mengejeknya. Bahkan, kakaknya sendiri turut menggoda. Namun, bisnis wristies tetap tumbuh dan media pun sangat tertarik dalam menceritakan kisah tentang bagaimana anak muda mempunyai ide dan menjualnya sendiri. Kesuksesan dan kegigihannya pun akhirnya banyak menjadi berita.

Setelah karyanya mendapat perhatian masyarakat, KK bersama ibunya mendirikan perusahaan, Wristies Inc, perusahaan yang memproduksi dan menjual wristies. Sebagai entrepreneur muda, KK bisa bekerja sama dengan sejumlah perusahaan besar seperti Girl Scouts, Federal Express, dan McDonald’s. Pada 1997, KK menjadi orang termuda bisa menjual produk lewat QVC, televisi belanja. Ketika KK sekolah hingga kuliah, sang ibu selalu membantu mengembangkan usaha.

Setelah selesai kuliah selama beberapa tahun, dia berkeliling dunia, dari California hingga Asia Tenggara. KK sekarang menetap di Maine dan menjabat sebagai presiden perusahaan. Wristies dijual seharga USD10 sampai USD25 di toko-toko terpilih, juga dipasarkan di Amazon.com, Wristies.com serta media lain. Cerita wristies menjadi kisah mercusuar bagi siswa di seluruh negeri. Hal ini terbukti memberikan inspirasi dan digunakan sebagai alat pendidikan dalam kelas. (*/Koran Sindo)

sumber

 

Bisnis Tutup Botol Jadikan Jutawan

Bisnis Maddie yang sederhana beromset jutaan dollar

 

Bisnis tak harus dimulai dari hal yang sudah awam dikenal orang atau dari penelitian rumit. Coba simak gadis remaja asal Amerika, Maddie Bradshaw yang menciptakan bisnis dari tutup botol. Ya, tutup botol!

Seperti dilansir situs Consumer News dan Business Channel (CNBC), lewat artikelnya yang berjudul “Inventions By Kids”, awal kesuksesan Maddie dimulai saat dia berusia 10 tahun. Saat itu, Maddie yang masih duduk di bangku sekolah bingung menghias lokernya; karena hiasannya harus unik dan tidak pasaran seperti milik siswa lain. Secara kebetulan, pada waktu itu pamannya yang memiliki mesin coke tua memberikan Maddie 50 tutup botol bekas untuk digunakan sebagai penghias. Hal ini dirasa sangat wajar, karena menurut Maddie dia berasal dari keluarga kreatif yang gemar mendaur ulang barang yang sudah tidak berguna. “Aku dan keluargaku memang telah terbiasa dengan kreativitas, bahkan sejak kecil aku juga terbiasa dengan kegiatan mendaur ulang barang-barang yang tidak terpakai lagi,” ujarnya seperti yang dilansir dari CNBC.

Sejak itu, muncullah ide untuk melukis dan memberikan magnet di bagian belakang tutup botol bekas tersebut. Setelah selesai dibuat, Maddie menempelkan hiasan buatan tangan itu di loker miliknya. Tak disangka ternyata hiasan buatan Maddie ini sangat menarik dan unik, sehingga banyak digemari sebagian besar teman sekolahnya. Bahkan, beberapa dari teman dekatnya juga meminta dia membuatkan hiasan yang unik tersebut. Makin hari hiasan tutup botol buatan Maddie menjadi dikenal dan dipesan banyak orang. Dengan makin banyaknya permintaan, gadis cantik ini menjadi terinspirasi untuk membuka usaha pembuatan hiasan dari tutup botol.

 

Setelah melakukan berbagai persiapan, tepatnya pada 2006, dia akhirnya mendirikan perusahaan yang diberi nama M3 Girl Desain yang menawarkan berbagai tutup botol cantik yang bisa dijadikan hiasan. Maddie mengaku bahwa bisnis ini dimulai dengan uang simpanan pribadinya sebesar 300 dolar AS. “Itu uang hasil simpananku yang aku dapatkan saat hari ulang tahun dan natal,” kata gadis belia yang berasal dari Dallas, Texas ini. Untuk menjalankan perusahaannya tersebut Maddie dibantu ibu dan adiknya bernama Margot yang masih berusia 9 tahun. Dalam bisnis ini, ibu Maddie bertugas menangani masalah keuangan, sedangkan Margot bertugas membantunya dalam proses produksi, yaitu dari penentuan gambar, melukis, hingga pengemasan produk tersebut. “Selera dan keahlian seni Margot memang sangat baik. Oleh karena itu, aku meminta bantuannya untuk menjalankan bisnis ini bersama-sama,” ungkap Maddie seperti yang dilansir dari inspiremetoday.com.

Untuk proses pemasaran, mereka melakukannya bersama-sama. Awal pemasaran perhiasan yang diberi nama snap caps ini, mereka mulai dengan cara menitipkannya pada salah satu toko mainan yang berada dekat lingkungan tempat tinggalnya. Karena sebelumnya sudah cukup dikenal, tak disangka ternyata hanya perlu waktu dua jam untuk menjual habis produknya tersebut. Sehingga mulai sejak itu, bisnis Maddie makin berkembang pesat dan dikenal masyarakat luas. Bahkan dalam usianya yang ke-13, Maddie berhasil meraih untung hingga jutaan dolar AS.

Selain menawarkan kalung dan gelang yang di hias dengan berbagai tutup botol cantik yang telah dilukis dan diberi magnet, saat ini Maddie juga menawarkan berbagai produk lain seperti jepit rambut, kuncir rambut, buku jurnal, kartu pos,dan notes yang dipercantik dengan snap caps. Kesemua produk ini ditawarkan Maddie dengan kisaran harga mulai 6,99 hingga 10,99 dolar AS. Keberhasilan Maddie menjalankan M3 Girl Desain memang tidak perlu diragukan lagi. Buktinya kini dia memiliki 40 karyawan untuk membantunya menjalankan bisnis tersebut.

Selain itu dari segi penjualan, snap caps juga telah berhasil menjadi hiasan yang paling digemari para remaja Amerika. Bahkan kini, beberapa artis muda Hollywood menjadikan snap caps sebagai salah satu aksesori yang mereka kenakan. Tak hanya sibuk membuat perhiasan, saat ini Maddie juga dikenal sebagai seorang penulis buku enterpreneur. Lewat bukunya yang berjudul “You can Start Business Too,” Maddie mengajarkan para pembaca untuk tidak ragu dalam memulai suatu bisnis. Situs toydirectory mengatakan bahwa kini tiap bulan Maddie mampu menjual lebih dari 60.000 kalung snap caps, yang tersedia di 2.500 toko yang ada di kawasan Amerika. Dengan semua keberhasilan tersebut, kini Maddie dinobatkan sebagai salah satu jutawan muda di dunia. (*/Koran Sindo)

sumber