Pantang Menyerah Ala Orang Jepang

mari belajar dari mereka

Advertisements

Tulisan ini saya ambil dari sini

Pantang menyerah ala jepang


Terima kasih sahabat saya Evie Triana dan Rouli Esther Pasaribu yang mengilhami ide tulisan ini…
***

TELAH habis kata untuk menggambarkan penderitaan rakyat Jepang. Penderitaan korban yang selamat dari gempa dan tsunami semakin bertambah menyusul salju yang turun.

Belum lagi, radiasi nuklir akibat meledaknya dua reaktor pembangkit listrik di Fukushima, menciptakan teror lain lagi bagi rakyat Jepang yang sedang terhimpit.

Tulisan ini tidak ingin berpanjang lebar soal penderitaan yang mengharu biru, tetapi justru ingin mengupas semangat rakyat Jepang untuk bangkit dari puing-puing tsunami.

Dalam penampilan yang sangat jarang, Kaisar Akihito muncul dalam siaran langsung televisi untuk memberikan komentar pertamanya di depan umum.

Tampil dengan wajah sangat muram, Kaisar Akihito sama sekali tak terkesan sedang menyemburkan citra sebagai pemimpin yang peduli rakyat di saat susah. Wajah sedih sang Kaisar hanya menyiratkan bahwa bencana alam ini dalam skala yang luar biasa.

Kaisar berbicara setelah para teknisi dipaksa meninggalkan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang lumpuh untuk sementara waktu. Stasiun-stasiun televisi menghentikan siarannya, saat Kaisar tampil dan berdoa bagi rakyatnya.

Dikutip BBC, Rabu (16/3), kaisar yang berusia 77 tahun ini mengatakan, “Dari lubuk hati terdalam, saya harap rakyat saling membantu, saling merawat dengan kasih sayang. Jangan menyerah dan mampu menghadapi masa-masa sulit ini.”

“Motto gambattekudasai, taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (Jangan menyerah, ayo berjuang lebih keras lagi. Saya tahu ini sulit, tapi ayolah berjuang bersama-sama),” kata Kaisar Hirohito dalam bahasa Ibu.

Usaha habis-habisan

Semangat pantang menyerah orang-orang Jepang dikenal dengan istilah “Gambaru”. Gambaru tidak ada urusannya dengan semangat pantang mundur para pejabat kita meskipun kinerja dan wataknya amburadul.

Gambaru adalah falsafah hidup mereka yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan, sejak usia 3 tahun, anak-anak Jepang sudah diajarkan falsafah gambaru di sekolahnya. Seperti belajar memakai pakaian berbahan tipis di musim dingin, agar tidak manja terhadap cuaca dingin.

Gambaru dalam idiom Jepang adalah, “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha habis-habisan). Ada dua karakter sekaligus dari kata gambaru, yaitu “keras” dan “soliditas”.

Di dalam sekolah, misalnya, sang anak tidak boleh memakai kaos kaki, karena kalau telapak kaki langsung kena lantai, itu baik untuk kesehatan. Kalau cuma sakit pilek ringan, atau demam 37 derajat tidak usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu.

Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah, “Sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, Anda mesti keras dan terus mengencangkan soliditas diri sendiri, agar Anda bisa menang menghadapi persoalan itu”.

Artinya, jangan manja atau mudah menyerah. Anggaplah semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup. Sebab, yang namanya hidup di dunia, pada dasarnya memang susah. Jadi, jangan berharap kemudahan atau menganggap enteng persoalan.

Bagi rakyat Jepang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru. Semangat gambaru ini terbukti, setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.0 disusul tsunami di Jepang bagian timur.

Kita tahu bahwa bencana alam di Indonesia seperti tsunami di Aceh, Nias dan sekitarnya, gempa bumi di Padang, juga letusan gunung merapi, bukan hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, gempa bumi dan tsunami dan di Jepang kali ini, jauh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Pembangun jiwa

Sangat wajar bila kemudian pemerintah dan masyarakat Jepang mulai panik dan kebingungan menghadapi bencana ini. Wajar pula jika mereka kemudian mulai merasa galau, menangis, tidak tahu mesti berbuat apa.

Tapi hebatnya, dengan skala bencana sebesar ini, stasiun-stasiun TV di Jepang tidak memasang musik latar bersedu-sedan atau membuat visual berisi tangisan anak negeri dan wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.

Kendati, gempa dan tsunami benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki, namun sejak hari pertama bencana, media Jepang sama sekali tidak menayangkan kesedihan itu. Bahkan, juga tak ada penggalangan rekening dompet bencana alam.

Stasiun TV Jepang hanya menyiarkan tayangan pembangun jiwa, seperti himbauan pemerintah agar seluruh warga Jepang bahu membahu menghadapi bencana, termasuk permintaan untuk menghemat listrik, agar warga di wilayah Tokyo dan Tohoku tidak berlama-lama terkena pemadaman bergilir, serta permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana.

Ada juga stasiun TV yang menayangkan peringatan pemerintah, agar setiap warga tetap waspada, tips-tips menghadapi bencana alam dan nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam, serta pengiriman tim SAR dari setiap prefektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana.

Sesekali ada potret warga dan pemerintah yang sangat sigap bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana. Pemerintah Jepang pun terus mengobarkan semangat masyarakat dengan gaya tenang dan tidak emosional: “Mari berjuang sama-sama menghadapi bencana”, “Mari kita hadapi (petugas selalu memakai kata norikoeru, yang secara harafiah berarti menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati.

Ada seorang pria muda dengan wajah galau mencari istrinya. Kendati belum ketemu sang istri, ia tetap tenang dan tidak emosional. Bahkan para nenek-nenek di pengungsian ikut memberi semangat: “Gambatte sagasoo! Kitto mitsukaru kara. Akiramenai de… (Ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah).

Kita perlu mengambil contoh semangat gambaru warga dan pemerintah Jepang menghadapi bencana terdahsyat ini.

Inilah negeri yang luar biasa. Negeri yang sumber daya alamnya sangat terbatas, dan alamnya keras, tapi bisa maju dengan hebat dan punya mental sekuat baja. Semua itu, tak lain karena falsafah gambaru yang melekat di dada setiap rakyat Jepang.

Bisa dibilang, orang-orang Jepang ini tidak punya apa-apa selain gambaru. Dengan gambaru, terkesan sudah lebih dari cukup bagi rakyat Jepang untuk menghadapi segala persoalan hidup.

————————–

Let’s pray for JAPAN

Author: Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s