Ciputra: Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana Pencari Kerja!

Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian,

Advertisements

Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian, melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya.

“Kita banyak menciptakan sarjana pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja, itu membuat masyarakat kita terbiasa makan gaji sehingga tidak mandiri dan kreatif,” ujar Ciputra di hadapan peserta seminar “Entrepreneurship Inspiring Our Journey” yang digelar di SMA Kolese Kanisius, beberapa waktu lalu

Entrepreneur atau wirausahawan, kata pria yang akrab disapa Pak Ci’ ini, adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran atau rongsokan menjadi emas. Dengan demikian, kata dia, negara selama ini hanya mencetak begitu banyak sarjana yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya, tetapi menjadikan mereka lulusan yang tidak kreatif.

“Malaysia punya lebih banyak wirausahawan daripada Indonesia, kini mereka lebih maju karena pendapatannya yang empat kali lebih besar dari Indonesia,” ujar Pak Ci’.

Makin banyak entrepreneur, sejatinya semakin makmur suatu negara. Ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) David McClelland pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika minimal mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2 persen dari jumlah penduduk di negara tersebut.

Menurutnya bahwa pada 2007 lalu AS memiliki 11,5 persen wirausahawan di negaranya. Sementara itu, Singapura memunyai 4,24 juta wirausahawan pada 2001 atau sekitar 2,1 persen. Namun, empat tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 7,2 persen, sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18 persen jumlah wirausahawan.

“Negara kita terlalu banyak memiliki perguruan tinggi dan terlalu banyak menghasilkan sarjana, tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan banyaknya lapangan kerja,” tandasnya

Akhirnya banyak melahirkan pengangguran terdidik, tahun 2008 kita punya 1,1 juta penganggur yang merupakan lulusan perguruan tinggi. Data tahun 2005/2006, misalnya, lanjut Antonius, terdapat 323.902 lulusan perguruan tinggi yang lulus. Kemudian dalam waktu 6 bulan dari Agustus 2006 sampai Februari 2007, jumlah penganggur terdidik naik sebesar 66.578 orang.

“Generasi muda kita tidak memiliki kecakapan menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri karena mereka terbiasa berpikir untuk mencari kerja,” ujarnya

Saatnya Pemuda Indonesia jadi Usahawan

81 tahun lalu, pemuda Indonesia menjadi pelopor dalam kebangkitan bangsa dalam bidang politik. Sekarang, diharapkan menjadi pelopor dalam usaha membangun bangsa yang sejahtera dengan menjadi wirausahawan (entrepreneur). “Menjadi perombak menuju bangsa yang sejahtera, bukan merdeka, karena kita sudah merdeka. Caranya adalah menciptakan peluang kerja bukan mencari kerja,” kata Ciputra

Menurutnya berdasarkan data Februari 2008 ada 1,1 juta pengangguran lulusan perguruan tinggi. Jumlah ini terus naik, karena menciptakan sarjana mudah, tapi untuk menciptakan sarjana yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan adalah kerja yang tidak sederhana. “Ada penelitian yang mengatakan 3 dari 10 tukang ojek adalah sarjana,” ungkap Ciputra.

Lebih lanjut, ia menuturkan, ada 2 alasan mengapa generasi muda sekarang sulit menjadi usahawan. Pertama, karena kita telah dijajah selama 350 tahun. Selama masa itu kita tidak diberi kesempatan untuk menjadi usahawan, kecuali orang Tiongkok dan India. Kedua, pendidikan kita mengarahkan peserta didik untuk menjadi pekerja bukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. “Minimal 2 persen penduduk menjadi entrepreneur. Tapi Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang yang seharusnya 4,4 juta,” tutur Ciputra.

Untuk itu, ia berharap supaya generasi sekarang mampu memacu dirinya untuk menjadi usahawan. Sehingga mampu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Peringatan Sumpah Pemuda menjadi saat yang tepat untuk memulainya.

Tak Lelah Beramal

Semakin tua, semakin sibuk, tak membuat Ciputra (78) kelelahan. Dari hari ke hari waktunya lebih banyak untuk memaparkan gagasan, menebarkan virus entrepreneurship. Semangat kewirausahaan.

Tampil dalam berbagai seminar dari pergutuan tinggi satu ke perguruan tinggi lain, dialog jarak jauh, dan bahkan narasumber di Universitas Ciputra Entrepreneurs Center (UCEC), Ciputra tak hendak cari uang.

“Ini masanya untuk beramal, menularkan gagasan. Tak ada kata lelah untuk beramal, berbuat untuk kepentingan bangsa. Bagaimana mengubah masa depan bangsa dan masa depan anak bangsa, menjadi semakin lebih baik,” ujarnya,

Beramal dengan gagasan, dengan waktu, dan dengan uang, diyakini Ciputra membuat dia mendapatkan lebih banyak dari apa yang dia berikan. Setidak-tidaknya karunia kesehatan dan kesempatan menularkan pengalaman dan gagasan.

“Sudah sejak tiga tahun lalu, saya selain mendidik calon-calon entrepreneurs dan menyiapkan para pendidik/pelatih entrepreneurs, juga minta waktu sejumlah menteri agar turut mendorong dan memasukkan gerakan entrepreneur dalam program-programnya,” ungkap Ciputra.

Go, Pak Ci!

Semoga panjang umur dan sehat selalu untuk terus berkarya bagi Indonesia!

Author: Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu

3 thoughts on “Ciputra: Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana Pencari Kerja!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s