Be, Do, Have

Apa sih Be, Do, Have itu?

Advertisements

Apa sih yang dimaksud Be, Do, Have?

Be = Menjadi

Do = Melakukan

Have = Mempunyai.

Be, Do, Have merupakan tahap- tahap yang harus dimiliki oleh orang untuk menjadi sukses dan ketiganya saling bersinergi. Banyak orang yang langsung ingin Mempunyai (Have), tanpa melewati proses Be dan Do. Percaya atau tidak, setelah orang itu pada tahap Have, dia kan jatuh lagi kembali ke keadaan semula. Pernah dengar seseorang yang kaya mendadak karena menang undian tetapi dalam setahun uangnya sudah habis? Atau Anda tahu kisah Mike Tyson yang menghasilkan uang sekitar 35juta USD dan dinyatakan bangkrut pada umr 40 tahun dengan hutang sekitar 35juta USD?

Orang yang mental, mindset, habit atau do-nya adalah orang miskin, walaupun sekarang kaya dia akan tetap miskin. Orang-orang kaya dan sukses tahu, bahwa untuk menjadi have, mereka harus mengatur pola mindset, mengatur sikapnya sehari-hari, mengatur tindakannya sehari-hari, baru dia menjadi kaya sebenarnya.

Contoh Be untuk menjadi kaya adalah Anda berusaha membuat nilai tambah. Melatih mindset untuk memprioritaskan membangun aset daripada mengeluarkannya ke arah konsumerisme. Melatih kebiasaan dan sikap sehari-hari menuju ke kesuksesan. Be adalah kualitas Anda sebagai manusia.

Contoh Do untuk menjadi kaya adalah Take Action pada Be yang Anda bayangkan dan latih dengan cara smart.

Be dikali Do sama dengan Have (BE x DO = HAVE).

Coba pada kasus 1, Be =1, Do = 10 maka Have = 10. Maka Anda akan melakukan Do lebih keras lagi untuk mencapai misalnya Have 100. Itu akan sangat melelahkan dan menguras pikiran serta waktu Anda. Tetapi coba lihat pada kasus 2, dimana Anda meningkatkan kualitas pribadi Anda, sehingga dengan Be = 10, Do = 1, Anda akan mendapat Have 10. Atau Be = 100, Do = 1, Have = 100. Hal ini yang menjelaskan mengapa orang kaya lebih santai, main golf, jalan-jalan ke luar negeri, tetapi tetap menghasilkan uang lebih besar dari seorang karyawan yang berdedikasi penuh tanpa cuti kepada perusahaan.

Jadi? Berbeda sekali bukan?

3M

Menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan.

Judul ini artinya bukan 3 Miliar lho atau 3M perusahaan Amerika yang terkenal dengan alat tulis kantor.. hehe.. tapi 3M akronim Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, dan Mulai dari sekarang.  Slogan ini pernah dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar atau yang lebih dikenal Aa Gym, dan memang saling berkaitan.

Mulai dari diri sendiri. Kadang aku menunggu orang lain untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu baru kemudian aku mengikuti. Atau kadang aku berharap orang lain mengerti aku. Tapi sebetulnya kita harus melakukannya terlebih dahulu, baru kemudian lingkungan akan melihat kita. Anda bisa memberi contoh dengan membuang sampah pada tempatnya, atau bila di dekat kita tidak ada tempat sampah, kita bisa memasukkan dahulu bungkus permen yang kita makan ke dalam saku celana baru kemudian dibuang di tempatnya. Paling tidak Anda bertanggung jawab soal sampah yang Anda hasilkan.

Mulai dari yang kecil. Anda tidak harus beralasan semua bahan harus ada, atau semua orang harus setuju. Daripada waktu Anda habis untuk menunggu semua terkumpul, bagaimana kalau lakukan dulu dari bahan-bahan yang sudah ada (kecuali bahan tersebut sangat penting dan menyokong bahan yang lainnya). Anda bisa mulai merapikan pensil dan bolpoin di meja kerja Anda, atau mulai merapikan catatan-catatan kecil di notes Anda.

Mulai dari sekarang. Kapan lagi Anda kan memulai bila selalu menunda? Lakukan apa yang bisa Anda lakukan hari ini, saat ini., bila hanya karena malas sebagai alasannya.

Menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan.

Jadi, masih mau menunda-nunda?

 

Setengah Isi atau Setengah Kosong?

Pilih yang mana?

Bagaimana Anda melihat gambar ini ?

Anda mungkin sebagian akan menjawab gelas ini kosong separuh, dan sebagian dari Anda mungkin akan menjawab gelas ini terisi sebagian. (asal jangan tidak menjawab, hehe..). Apabila kita berpikir positif, kita pasti akan memilih b, dan apabila kita berpikir negatif, kita akan memilih a (karena selalu merasa kurang).

Cara pandang yang positif akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja, bahkan seluruh gerak hidup kita. Melalui cara pandang demikian, secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimiliki. Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang yang positif akan memiliki willingness to do more (keinginan untuk melakukan lebih dari yang diminta) dan memiliki watak pekerja cerdas (smart worker). Mereka akan terus bersyukur, alih-alih menginginkan yang tidak mereka miliki, mereka akan lebih lagi menginginkan hal-hal yang telah mereka miliki. Nah lho..

Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta mengenali pemecahannya. Mengetahui kesulitan dan yakin bahwa kesulitan itu dapat diatasi. Melihat yang negatif tetapi menekankan yang positif. menghadapi yang terburuk namun mengharapkan yang terbaik. Mempunyai alasan untuk menggerutu, tetapi memilih untuk tersenyum.


Tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi, tidak ada langkah yang terlalu panjang untuk dijalani, dan tidak ada orang yang terlalu sulit untuk dihadapi ketika KITA MAMPU Menyikapi Peristiwa yang terjadi dengan Hati yang Jernih dan Kepala dingin (asal jangan disiram pakai air di gelas yang setengah kosong, eh setengah penuh tadi..)

Humor Ala Marketing

Istilah dalam Dunia Marketing

Sejumlah mahasiswa bertanya pada dosennya tentang arti dari beberapa istilah dalam dunia marketing. Agar lebih mudah dipahami ia menjelaskannya dengan sejumlah analogi:

1. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Direct Marketing.

2. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah kamu, temanmu itu berkata, “Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!” Itu namanya Advertising.

3. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya kamu telepon dia dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Telemarketing.

4. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, kamu bilang, “By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Public Relations.
5. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri kamu dan berkata, “Kamu orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!’ Itu namanya Brand Recognition.

6. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, tapi dia malah menampar kamu. Itu namanya Customer Feedback.

7. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, terus dia memperkenalkan kamu ke suaminya. Itu namanya Demand and Supply Gap.

8. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan
langsung berkata, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’ Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut. Itu namanya Losing Market Share.

9. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’…. tiba-tiba istri kamu nongol! Itu namanya Barrier to New Market Entry.

KESEHATAN ITU MAHAL

lebih baik mencegah daripada mengobati..

foto pasien cuci darah / hemodialisis

Kemarin dulu aku sempat bertemu seorang pasien, sebut saja bapak Alex yang dirawat karena mengalami gagal ginjal dan gagal jantung. Ia menceritakan kisah hidupnya berdampingan hampir 15 tahun dengan penyakit diabetes. Pada awal divonis oleh dokter bahwa pak Alex menderita diabetes, dia tidak menghiraukan anjuran dokter untuk mengubah diet makanan rendah gula, mengkonsumsi obat penurun gula secara teratur, dan melakukan olahraga. Resikonya bertambah pula dengan berat badannya yang overweight. Pernah sepulang dari pesta, dia hampir pingsan karena tidak mengontrol makanan yang dia lahap. Sering pula dia merasa gampang letih dan bengkak-bengkak di kakinya. Alih-alih kontrol ke dokter, dia malah mencari pengobatan tradisional. “Masih mau makan enak”, alasannya ketika itu (maklum, kalau mendapat pengawasan terapi dari dokter, dia harus berhenti memakan terlalu banyak Karbohidrat dan makanan berlemak lainnya).

Seperti biasa, nasi telah berubah menjadi bubur. Setelah beberapa kali dirawat, dokter memvonis adanya penurunan fungsi ginjal dan penurunan fungsi jantung karena kadar gula tinggi yang tidak terkontrol merusak pembuluh darah yang vital. Mau tidak mau dia harus menjalani terapi cuci darah seumur hidupnya. Coba bayangkan berapa besar biaya yang harus dia tanggung. Seminggu sekitar 2 kali cuci darah. Sekali cuci darah biayanya 750 ribu. Jadi kurang lebih 72 juta setahun hanya untuk cuci darah saja. Belum kompensasi kesehatan lainnya. Ketika ditemui, tampak sekali raut penyesalan di wajah bapak Alex. Dia memberikan wejangan untuk tidak menyepelekan sesuatu hal, sekecil apapun hal itu, dan menuruti saran dokter sedini mungkin.

Banyak kasus juga, kebanyakan karena faktor biaya yang membuat pasien maupun keluarganya menolak untuk mengikuti saran dokter. Tetapi ketika kondisi pasien semakin memburuk, barulah keluarga memohon untuk diberikan terapi meskipun sudah terlambat. Hal ini malah membuat biaya pengobatan akan semakin mahal.

Jadi kesimpulan tetaplah Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati.

Peluang Usaha Bidang Makanan bag.1

Dari beberapa pengusaha, baik itu makanan atau bidang usaha yang lain, sebanyak 80% dari mereka gagal di tahun pertama dan kedua, sisanya 15-17%

Kemarin dulu, aku sempat survey ke Bali bersama teman dan istri. Kebetulan ada 2 temanku yang tinggal di Bali. Mereka memberikan insight-nya tentang bisnis makanan. Satu orang sempat menikmati nikmatnya berbisnis makanan, sedangkan teman yang satu lagi pengamat dan pemodal bisnis yang cukup brilian.

Dari beberapa pengusaha, baik itu makanan atau bidang usaha yang lain, sebanyak 80% dari mereka gagal di tahun pertama dan kedua, sisanya 15-17% gagal di tahun berikutnya sampai tahun ke empat. Hanya 3% yang bisa bertahan dan mencapai sukses. (diambil dari blog ini).

Hal ini diamini oleh pemilik warung makan Depot Asik di daerah Jimbaran, sebut saja Bu Ani. Menurut bu Ani, dia mulai menangguk keuntungan setelah kurang lebih 5-6 tahun menekuni bisnis makanan ini dengan omset 3-4 juta perhari. Awalnya dia sempat down ketika Bom Bali 1 membuat order di warungnya menurun dan pelanggan yang datang juga berkurang jauh. Beruntung (dibantu keteguhan hatinya untuk bertahan), pelanggan lama mulai kembali berdatangan. Bahkan ada yang meminjamkan modal untuk kerjasama membuka sebuah restoran di daerah Kuta, dan bertahan terus sampai membuka 2 cabang.

Dari beberapa sumber yang didapat, aku merangkum modal apa saja yang dibutuhkan untuk memulai bisnis makanan ini :

 

  • You have to start somewhere.

Iya, inilah modal awal yang dibarengi keberanian dalam menatap ketidakpastian dunia usaha. Bagaimana Anda mau memulai usaha bila hanya berkembang dalam impian atau perkataan saja?

  • Harus kuat modal.

Seperti yang sudah disinggung di atas, bisnis yang sukses harus mampu bertahan minimal 5 tahun. Memang tahun pertama dan kedua adalah yang terberat karena pelanggan belum mengenal produk kita. Sedangkan pengeluaran operasional sehari-hari terus berjalan, seperti pembelian bahan, ongkos transportasi, gaji pegawai, listrik, dll. Jadi perhitungkan kembali modal yang dibutuhkan selain modal awal, selama 2 tahun ke depan. Lalu bagaimana bila modal pas-pasan? Anda bisa memikirkan untuk memperkecil  resiko, let’s say sewa tempat yang kecil dulu, perabotan makan yang sederhana dulu, pegawai cukup 1 atau kalau sanggup urus sendiri lebih baik.

  • Lokasi, lokasi, lokasi.

Ini juga sangat penting (kalau jaman sekolah dulu ada istilah Lokasi menentukan prestasi, hehe.. lokasi tempat duduk dekat dengan teman yang pintar saat ujian). Penentuan lokasi harus disesuaikan dengan target pasar yang akan dibidik. Apakah anak sekolah? Atau pegawai kantoran? Atau anak muda yang sering hang out di klub malam?

  • Harus terjun langsung.

Selain bisa lebih kenal dengan pelanggan, kita akan lebih memahami seluk beluk dunia bisnis, sambil memantau arus kas masuk dan keluar

  • Teguh pada tujuan.

Kadang ketika kita terjatuh karena terantuk batu (apalagi di depan banyak orang), kita akan mengumpat, malu, membersihkan kotoran yang menempel, melihat luka yang ada. Tetapi kita tetap bangun dan berjalan lagi bukan? Seyogianya dalam berbisnis haruslah ada kemauan untuk bangkit berdiri lagi dan terus berjalan.

Bersambung..