Gak pernah (lupa) berterima kasih

Sudah dapat pekerjaan bagus, eh menuntut gaji naik terus. Sudah dapat istri yang baik, eh masih cari WIL (wanita idaman lain) di luar. Kesehatan sedang baik, eh cari penyakit dengan makan seenaknya (makanan yang tinggi kadar kolesterol). Wah, manusia memang gak ada puasnya, kata si Joni membuka pembicaraan. Kebetulan aku berempat sedang membahas biaya pelatihan profesional yang kami ikuti. Aku seorang profesional tenaga medis harus membiayai pelatihan selama 2 bulan yang terbilang cukup mahal ini dengan biaya sendiri, sedangkan keempat temanku dibiayai oleh instansi masing-masing. Sering kudengar keluhan dari mereka yang berkata tidak ada waktu untuk praktek lah, kesempatan menghasilkan uang berkurang lah, ongkos transport kurang lah, ongkos akomodasi kurang lah (padahal beberapa dari mereka masih menerima gaji bulanan). Aku hanya geleng-geleng kepala ketika mereka berkata “Itu khan pilihanmu?” ketika aku mencoba mengkonfontir keluhan mereka dengan beban biaya yang aku tanggung sendiri dan otomatis kesempatanku untuk mencari uang dengan berjaga di rumah sakit juga berkurang.

Ya, kadang manusia lupa untuk berterima kasih. Secuil apapun rejeki yang didapat, seberapapun uang yang diterima, seikhlas apapun ucapan terima kasih dari pelanggan, sebaik apapun orang terdekat kita, sesehat bagaimanapun raga kita. Kita hanya menerimanya seolah itu adalah hak kita, take it for granted kalo bahasa sundanya mah.. 🙂

Selesai dari pertemuan agama yang kuikuti, aku kembali merenungkan kata-kata sang pandita utama : “Manusia yang lupa berterima kasih, mempunyai nasib jiwa miskin. Sebanyak apapun rejeki atau uang yang didapat, akan habis begitu saja.”. Wah, benar juga perkataan itu. Aku selalu merasa kurang dan kurang ketika disejajarkan dengan teman saya yang berpenghasilan hampir sembilan digit per bulan. Atau bila dibandingkan dengan teman lain yang kebetulan adalah seorang public figure. Tanpa berterima kasih, aku biasanya akan mulai menggerutu dan mencari pembenaran atas semua kegagalan dan kemandekan yang aku (dengan sadar) biarkan berjalan seperti tikus yang berlari di dalam roda setan.

Ya, kadang manusia juga sombong untuk mengakui andil orang lain, ataupun andil dari sesuatu yang lebih besar dari kita. Entah itu Tuhan, ataupun kekuatan alam semesta. Sombong untuk mau mengakui keterbatasan yang ada. Alih-alih mengakui, manusia malah menyalahkan keadaan, menyalahkan manusia lain, menyalahkan situasi, bahkan menyalahkan Tuhannya.

Ngomong atau nulis mah gampang… Prakteknya?

Terima kasih sudah membaca tulisan ini.

Tuh khan sudah dipraktekkin? Hehe..

Advertisements

Bentuk-Bentuk Self Excuse

Pernah merasa ketika harus bangun pagi, Anda mematikan weker dan berkata, “ah.semalam khan begadang

Apa sih Self Excuse?

Pernah merasa ketika harus bangun pagi, Anda mematikan weker dan berkata, “ah.semalam khan begadang karena ini, karena itu, jadi enggak apa-apa kalau bangun agak telat”; atau ketika mengerjakan suatu tugas, tiba-tiba Anda di-sabotase oleh banyak hal, misalnya “lah ini khan waktunya liburan, udah akhir minggu, ngapain harus bersusah payah bikin presentasi?”;

Atau contoh lain ketika aku datang mengunjungi seorang teman di luar kota (dan kebetulan dia sedang diet karena sudah mulai overweight). Rusaklah sudah dietnya ketika dia diingatkan istrinya dan tetap bersikeras “aku khan pemakan sosial.” (menurut istilah temanku, itu artinya makan hanya ketika menjamu teman atau kerabat yang datang berkunjung). Aku sampai geleng-geleng kepala ketika dia selalu mengajakku makan berkali-kali tanpa sepengetahuan istrinya. Mungkin temanku ini terinspirasi excuse yang dibuat adiknya ketika ditegur karena merokok. “Aku perokok sosial kok, merokok hanya kalau ada teman-teman yang merokok.”

Self excuse adalah bentuk sabotase dari dalam diri ketika kebutuhan manusia akan kenyamanan terganggu. Menurut Tung Desem Waringin, manusia cenderung mencari nikmat menghindari sengsara. Dengan berbagai macam alasan, dia berusaha mempertahankan kenyamanan. Apakah kenyamanan dengan makan, dengan merokok, dengan beristirahat, dan kenyamanan lainnya. Bentuk sabotase inilah yang menghambat seseorang untuk bisa berubah lebih baik, lebih maju, dan lebih-lebih lainnya ke arah yang positif.

Mungkin salah satu kelebihan dari self excuse ini adalah orang menjadi lebih kreatif untuk membuat berbagai alasan..

Pemakan sosial? Perokok sosial? Haha.. ada-ada saja..