Keinginan versus Kebutuhan 2.. Kapan Saatnya Berkata Cukup!

Tapi bedakan cukup dalam memenuhi keinginan dengan besarnya keinginan mencapai mimpi Anda untuk maslahat orang banyak.

Advertisements

Lanjutan dari artikel di sini.

Lihat  sekitar Anda, apakah Anda  sudah ternaungi dari panasnya matahari dan dinginnya hujan? Jika ya, berarti kebutuhan papan Anda sudah terpenuhi. Apakah Anda masih bisa memakai pakaian yang layak setiap harinya dan makan tiga kali sehari? Jika ya, berarti kebutuhan sandang dan pangan Anda sudah tercukupi.

Aku ambil contoh temanku. Dia seorang karyawan freelance, sedangkan istrinya seorang karyawan perusahaan swasta. Suatu saat kita pernah bertemu. Kebetulan dia sudah menjual propertinya untuk membangun bisnis. Tapi yang aku lihat di lapangan berbeda. Uang hasil penjualan properti itu dipakainya untuk membeli mobil keluarga baru, perabotan di rumahnya baru sampai memenuhi ruangan, dan dia sendiri berhenti bekerja sama sekali. Tetapi ironisnya untuk membayar biaya opname anaknya dia harus cari pinjaman ke sana ke mari.

Selama Anda masih berfokus untuk memenuhi keinginan terus, Anda tidak akan pernah merasa puas. Pernah dengar semakin besar penghasilan, semakin besar pula pengeluaran? Pernah dengar pula nama Mike Tyson? Elton John? Michael Jackson? Mereka superstar yang bangkrut karena kebiasaan belanja gila-gilaan. Tetapi ketika Anda tahu batasannya, Anda akan lebih menghargai kelebihan penghasilan Anda, bahkan bisa memanfaatkannya untuk hal berguna lainnya, seperti membantu sesama. (Anda pun akan siap ketika masa kejayaan Anda tiba, Anda bisa mengalokasikan harta atau aset Anda dengan baik.)

Kadang ada orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada uang dan ‘mainan’ materialnya (mobil, yacht, gadget, TV LED). Ketika mainannya sudah usang, dia akan mencari lagi dan mencari lagi. Sedangkan kebahagiaan sebenarnya ada di dalam diri Anda. Cukup dengan bisa bangun segar setiap pagi, bisa merasakan hangatnya matahari pagi, bisa mencium anak dan istri sambil berkata ‘Good Morning’, bisa mencari nafkah dengan kondisi badan sehat, bisa bermain musik, bisa membuat artikel dan memposting di blog. Itu sudah lebih dari cukup, dan aku bersyukur untuk itu. Nah, biasakan berkata cukup dulu. Tapi bedakan cukup dalam memenuhi keinginan dengan besarnya keinginan mencapai mimpi Anda untuk maslahat orang banyak. Itu tidak akan pernah cukup.

Salah seorang teman, Anang berujar “kalo karena keinginan, lalu kebutuhan tidak tercukupi, masalahnya ada di kurangnya pendapatan, selesaikan itu, dan buat keinginan sebagai motivasi, bukan malah menekan keinginan lalu menyesuaikan diri dengan pendapatan yang kecil, itu pikiran orang kecil. You shoukd Think Big”  Yup, couldn’t agree more!

Nah, bagaimana merubah impian menjadi kenyataan?

Nantikan artikel berikutnya..

Author: Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu

One thought on “Keinginan versus Kebutuhan 2.. Kapan Saatnya Berkata Cukup!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s