Get Out While You Can! Dow Headed to 5000, Charles Nenner Says

Get Out While You Can! Dow Headed to 5000, Charles Nenner Says

Posted Jul 15, 2010 07:30am EDT by Peter Gorenstein in Investing

Related: ^DJI^GSPCSPY^IXICQQQQDIAIWM

Enjoy the recent stock market rally while it lasts. Market forecasterCharles Nenner tells Tech Ticker stocks will peak in about a month and then head south for the year.

“After late August I expect the market to go down again,” and eventually test the March 2009 lows in the next few years, he says on the phone from Israel. Therefore, long-term investors would be wise to use this rally as an opportunity to get out of stocks. “I see this as a bear market rally,” he says comparing the U.S. market to Japan – a prolonged bear market with wild fluctuations.

Until the end of August, stocks will trade in a tight range, he predicts. His near term upside target is 1155 on the S&P 500, but that’s only if it first breaks 1100. If the market finds resistance and closes below 1085, it could spell trouble.

It’s worth paying attention to Nenner’s warning. As Seeking Alpha contributor Cliff Wachtel points out, Nenner has a pretty good track record with his recent calls:

• In early 2009, when markets appeared on the brink of collapse, Nenner said the S&P 500 was going from 660 to over 1000 within the coming year.

• In early 2009, he foretold gold’s 6-month run from June in the low $900s to $1220, within mere dollars of its ultimate peak at $1225.

• More recently, in December 2009 he called the top in U.S. stocks within 4 days.

His advice for the average investor: “You don’t want to get in the market,” he says. “For the next couple of years, just be happy if you don’t lose money.”

When will it be safe to go back in the water? Not until the market experiences a lot more pain, he forecasts. Don’t bet on stocks for the long haul, “until you get below 7000. And preferably if you wait till 5000, which is my downside target on the Dow Jones.”

source here

Advertisements

Bagaimana Mengubah Impian Menjadi Kenyataan

Just Do It

Jawabannya sederhana sekali.. LAKUKAN! Ya, lakukan apa yang diperlukan untuk mencapai mimpi. Banyak orang punya ide brilian, tetapi sedikit yang melakukannya. Itulah resep mengapa hampir semua orang kaya yang Anda temui menjadi seperti sekarang. Bukan berarti ide merekalah yang paling hebat. Bukan berarti merekalah yang selalu mendapat peluang. Bukan karena mereka bersekolah di luar negeri atau bersekolah sampai tingkat tinggi. Bukan karena mereka anak orang berpunya. Yang mereka punya hanyalah keyakinan bahwa mereka perlu mengambil tindakan.

Aku tahu banyak dari Anda tidak pernah bertindak karena takut Anda tidak cukup tahu-tidak siap. Lalu apa yang terjadi? Anda menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun menyiapkan diri, belajar, meriset, dan berusaha mengantisipasi apapun yang dapat terjadi. Mengapa? Karena Anda ingin mengakui seberapa banyak Anda tidak tahu. Anda tidak ingin terlihat sebagai orang yang gagal. Tetapi coba tebak, seperti itulah Anda terlihat bila tidak bertindak.

Bahkan sebenarnya para orang kaya tidak tahu semuanya. Bahkan mereka sama sekali tidak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan. Akan tetapi mereka berusaha sebaik-baiknya.
Lalu bagaimana cara mengalahkan ketakutan? Anda ingat ketika pertama kali masuk TK atau SD, Anda takut di hari pertama masuk sekolah? Anda menangis ketika ditinggal ibu ketika bel masuk berbunyi? Takut dengan pelajaran baru yang lebih rumit, takut bertemu guru yang galak? Tetapi akhirnya Anda berhasil melewatinya. Kemudian Anda masuk ke SMP, dengan ketakutan yang hampir sama. Tetapi Anda tetap menjalaninya dan melewatinya. Sama seperti ketika Anda masuk SMA dan akhirnya masuk Universitas. Anda mengalami ketakutan tidak mampu mengikuti pelajaran, takut terhadap para senior yang berbadan besar, takut mendapat nilai terrendah, takut tidak lulus mata kuliah. Tetapi toh Anda berhasil melewatinya. Anggap saja seperti hari pertama Anda masuk sekolah, lambat laun Anda akan menyelesaikannya. Sama seperti itu, Anda pun akan berhasil melewatinya. Anda harus santai. Buang rasa takut, rasa tertekan, dan ganti dengan gairah, ambisi, dan keyakinan yang akan tumbuh bersama tindakan.

Percayalah, Anda akan semakin baik dalam melakukannya. Entah itu membangun bisnis, berinvestasi di properti, berinvestasi di pasar saham. Ingat sebuah pepatah : “Perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama.” (Lao Tzu)

Tips Bagaimana Memulai Suatu Bisnis

Sama seperti ketika Anda belajar naik sepeda

Banyak buku yang membahas tentang cara-cara berbisnis, bagaimana memulai suatu bisnis, bagaimana membeli suatu bisnis franchise. Anda bisa membeli dan membaca semuanya bahkan tidak akan habis karena pasti akan bermunculan lagi buku-buku tentang bisnis lainnya.

Sama seperti ketika Anda belajar naik sepeda. Apabila Anda sangat takut jatuh, Anda bisa mengamati orang yang bersepeda dahulu, Anda bisa membaca buku atau melihat video cara orang bersepeda, Anda bisa belajar fisika mekanis, Anda bisa belajar reseptor tubuh tentang keseimbangan, Anda bisa membeli alat-alat penahan siku dan lutut serta helm, tetapi Anda belum benar-benar naik sepeda setelah Anda menginjak pedal dan mengayuhnya. Anda mungkin agak oleng, Anda mungkin sekali terjatuh, Anda mungkin perlu dua roda penyangga lagi, Anda mungkin perlu seseorang yang menyertai Anda, tetapi tetap Anda-lah yang harus mengayuhnya. Tidak ada cara lain.

Begitu juga dengan bisnis. Anda bisa mengamati orang yang sudah sukses berbisnis, Anda bisa belajar dari buku, Anda bisa bertanya atau minta bimbingan kepada mentor, tetapi Anda-lah yang harus memulainya.

Berikut beberapa tips :

  1. Jangan buat rencana bisnis terlalu muluk. Menurut seorang teman, ada 2 macam bisnis, Top Down atau Bottom Up. Apabila Anda masih belum punya apa-apa (modal, rekanan, pelanggan, supplier, tempat, dll.) mulailah dari yang bisa Anda lakukan dahulu, alias metode Bottom Up. Dengan Bottom up Anda meminimalisir kerugian dibandingkan Top Down yang prinsipnya membuka usaha dulu dengan modal besar baru kemudian mencari pelanggan.
  2. Buat visi, misi, dan tenggat waktu (jangka pendek, menengah, dan jangka panjang). Buat visi yang berguna bagi orang banyak. Buat rencana harian yang harus dilakukan untuk mencapainya (misi harian). Tentukan tenggat waktu, dan jalankan terus. (mungkin 1-2 tahun pertama belum menghasilkan, tetapi tetap konsisten di jalur itu)
  3. Mulai dari yang Anda bisa atau yang Anda suka. Kalau Anda belum bisa membuka jalan, tetaplah melakukan atau berlatih kesukaan Anda di sela-sela kesibukan sebagai karyawan.
  4. Fokus ke hal-hal yang menghasilkan setiap harinya. Anda akan kaget berapa banyak waktu habis percuma untuk hal-hal yang tidak produktif.
  5. Jangan besar pasak daripada tiang. Anda pasti menginginkan barang-barang ideal yang seharusnya ada. Misal meja kantor besar yang cantik, sekretaris pribadi, sepuluh orang karyawan. Apa yang benar-benar Anda butuhkan? Coba baca artikel berikut.
  6. Beri hadiah kepada diri Anda untuk setiap langkah yang telah sukses dilakukan.

Dikumpulkan dari berbagai sumber.

Semoga bermanfaat.

Keinginan versus Kebutuhan 2.. Kapan Saatnya Berkata Cukup!

Tapi bedakan cukup dalam memenuhi keinginan dengan besarnya keinginan mencapai mimpi Anda untuk maslahat orang banyak.

Lanjutan dari artikel di sini.

Lihat  sekitar Anda, apakah Anda  sudah ternaungi dari panasnya matahari dan dinginnya hujan? Jika ya, berarti kebutuhan papan Anda sudah terpenuhi. Apakah Anda masih bisa memakai pakaian yang layak setiap harinya dan makan tiga kali sehari? Jika ya, berarti kebutuhan sandang dan pangan Anda sudah tercukupi.

Aku ambil contoh temanku. Dia seorang karyawan freelance, sedangkan istrinya seorang karyawan perusahaan swasta. Suatu saat kita pernah bertemu. Kebetulan dia sudah menjual propertinya untuk membangun bisnis. Tapi yang aku lihat di lapangan berbeda. Uang hasil penjualan properti itu dipakainya untuk membeli mobil keluarga baru, perabotan di rumahnya baru sampai memenuhi ruangan, dan dia sendiri berhenti bekerja sama sekali. Tetapi ironisnya untuk membayar biaya opname anaknya dia harus cari pinjaman ke sana ke mari.

Selama Anda masih berfokus untuk memenuhi keinginan terus, Anda tidak akan pernah merasa puas. Pernah dengar semakin besar penghasilan, semakin besar pula pengeluaran? Pernah dengar pula nama Mike Tyson? Elton John? Michael Jackson? Mereka superstar yang bangkrut karena kebiasaan belanja gila-gilaan. Tetapi ketika Anda tahu batasannya, Anda akan lebih menghargai kelebihan penghasilan Anda, bahkan bisa memanfaatkannya untuk hal berguna lainnya, seperti membantu sesama. (Anda pun akan siap ketika masa kejayaan Anda tiba, Anda bisa mengalokasikan harta atau aset Anda dengan baik.)

Kadang ada orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada uang dan ‘mainan’ materialnya (mobil, yacht, gadget, TV LED). Ketika mainannya sudah usang, dia akan mencari lagi dan mencari lagi. Sedangkan kebahagiaan sebenarnya ada di dalam diri Anda. Cukup dengan bisa bangun segar setiap pagi, bisa merasakan hangatnya matahari pagi, bisa mencium anak dan istri sambil berkata ‘Good Morning’, bisa mencari nafkah dengan kondisi badan sehat, bisa bermain musik, bisa membuat artikel dan memposting di blog. Itu sudah lebih dari cukup, dan aku bersyukur untuk itu. Nah, biasakan berkata cukup dulu. Tapi bedakan cukup dalam memenuhi keinginan dengan besarnya keinginan mencapai mimpi Anda untuk maslahat orang banyak. Itu tidak akan pernah cukup.

Salah seorang teman, Anang berujar “kalo karena keinginan, lalu kebutuhan tidak tercukupi, masalahnya ada di kurangnya pendapatan, selesaikan itu, dan buat keinginan sebagai motivasi, bukan malah menekan keinginan lalu menyesuaikan diri dengan pendapatan yang kecil, itu pikiran orang kecil. You shoukd Think Big”  Yup, couldn’t agree more!

Nah, bagaimana merubah impian menjadi kenyataan?

Nantikan artikel berikutnya..

Antara Keinginan versus Kebutuhan

Kalau tidak menahan keinginan, bisa-bisa kebutuhan tidak tercukupi…

mobil - mobil baru

Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Keinginan adalah sekejap gejolak perasaan, sedangkan kebutuhan diperlukan untuk hidup. Kalau tidak menahan keinginan, bisa-bisa kebutuhan tidak tercukupi. Kebutuhan dasar yang diperlukan seorang manusia untuk bertahan hidup adalah Oksigen, Air, Sandang, Pangan, Papan. Segala sesuatu di luar itu pada dasarnya adalah keinginan.

Ketika Anda tidak dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan, atau ketika Anda tidak dapat mengenali bahwa itu hanyalah suatu keinginan, Anda akan terus berharap dan akan terus menyesal.

Sebagai contoh, kalau Anda tidak mendapatkan suatu benda atau suatu keadaan yang Anda harapkan, bagaimana rasanya? Mungkin Anda harus bertanya kepada diri sendiri, apakah itu keinginan yang tiba-tiba muncul di kepala, atau keinginan setelah melihat atau mendengar iklan?

Aku juga sering tergoda untuk memiliki sesuatu yang tiba-tiba muncul di kepala, dan berseru..” Hey, mungkin barang ini akan menunjang bisnismu” (seperti beberapa seminar yang menurutku tidak perlu, atau buku-buku terbaru), atau “Hey, kamu bakal kelihatan lebih keren kalau pakai itu!” (seperti kemarin mau beli sepatu basket terbaru padahal yang sudah ada di rak sepatu baru beberapa kali pakai). Nah, ketika keinginan itu begitu menggebu-gebu, dan akhirnya tidak tercapai, Anda akan terus menyesal, dan kembali berharap. Dan kebahagiaan pun tampak begitu jauh.

Apa sih dasar dari keinginan itu sendiri? Menurut ilmu psikologi, keinginan muncul dari dalam diri yang menghendaki aktualisasi diri untuk menjadi lebih daripada orang lain, atau untuk menutupi perasaan ‘kekurangan’ yang ada dalam diri dengan mencarinya di luar diri sendiri. Kita mencari lewat iklan, mencari berbagai salon dan perawatan, mencari baju/tas/sepatu di Tanah Abang atau mal-mal terdekat. Suatu pencarian yang tidak berbatas (sementara masalah di dalam diri sendiri tidak dibereskan). Menurut Tung Desem Waringin, Anda membeli suatu barang baru yang tidak memenuhi kaidah kebutuhan, karena Anda ingin mengubah suasana hati Anda. Tapi itu sifatnya hanya sementara. Setelah beberapa hari/minggu/bulan Anda akan mulai bosan dan terbiasa dengan ‘mainan’ baru Anda. Entah mobil baru, Playstation 3 yang baru, sepatu baru, dan yang baru-baru lainnya (kecuali kebiasaan baik yang baru dan hidup yang baru, hehe..)

Lalu bagaimana dengan keinginan untuk bersedekah misalnya, ikut kegiatan sosial pengobatan gratis, atau membuat suatu bisnis yang bisa menghidupi banyak orang? Apakah itu perlu? ABSOLUTELY! Keinginan yang tidak berdasarkan Ego untuk diri sendiri haruslah diperjuangkan, karena kebahagiaan abadi ada di situ.

Happiness simply reside within you. Yes, you!

Jadi, bagaimana bilang bahwa enough is enough ?.. Bersambung ke sini

Kenapa Orang Bodoh Lebih Pintar dari Orang Pintar ?

Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.


Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis…
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,
maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.

Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).
oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar
untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,
sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi
staf-nya orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,
dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
‘ meratap-ratap ‘ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

Bill Gates (Microsoft), Michael Dell, Hendri (Ford),
Thomas Alfa Edison, Liem Sioe Liong (BCA group).
Adalah contoh orang-orang yang tidak pernah dapat S1), tapi kemudian menjadi kaya.
Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.
Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

PERTANYAAN :
Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??

KESIMPULAN :
Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.

Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
Kata kunci nya adalah ‘ resiko ‘ dan ‘ berusaha ‘ ,
karena orang bodoh berpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil,
selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk
selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.
Dan mengabdi pada orang bodoh…

Dimanakah posisi anda saat ini…
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…

Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.
Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya…!!!

Semoga Kesuksesan Selalu Mendekat Pada Kita . . . !