(Mirip) Ariel dan Cut Tari

Dalam adegan intim itu, tampak si pria membisikkan sesuatu ke si wanita : …

Advertisements
mirip ariel dan cut tari

Dalam adegan intim itu, tampak si pria membisikkan sesuatu ke si wanita : “Let me see your face”. Si wanita sempat berkata “jangan..”. Lalu pria tersebut melanjutkan kata-kata biusnya “Ada aku di dalamnya” (maksudnya ada wajah pria itu juga di dalam video amatiran tersebut)

Aku lantas berpikir, apakah mereka yang di dalam video itu (terutama si wanita) menyadari dampak terburuk yang mungkin akan timbul di kemudian hari? Ataukah memang hubungan intim seperti itu sudah berulang kali dilakukan dan didokumentasikan, sehingga pelaku (dalam hal ini korban) merasa biasa dan tidak canggung?

Kadang manusia melupakan konsekuensinya hanya untuk kenikmatan sementara. Kenikmatan yang sesaat, dan hilang ketika sudah terlampiaskan. Kenikmatan yang bagi banyak orang begitu memabukkan dan membuat ketagihan. Dalam hal ini bisa dimasukkan kenikmatan menenggak minuman ber-alkohol; kenikmatan menghisap bong; kenikmatan mengkonsumsi pil-pil pelambung khayal; kenikmatan melakukan hubungan seks tanpa batas; kenikmatan menikmati segala jenis makanan lezat tanpa batas juga; kenikmatan menghisap tembakau; dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang menjurus ke hal-hal yang negatif.

Aku sempat punya pemikiran, manusia hidup untuk menikmati kesementaraan. Bagaimana bisa?

Misal, dengan narkoba atau minuman keras orang bisa sejenak menikmati kebebasan dari masalah yang menghimpitnya; dengan menikmati harumnya dan bersihnya mobil yang baru dicuci meskipun esoknya sudah kehujanan lagi; menikmati berbagai makanan lezat dan mahal yang menurut salah seorang teman saya “manajemen WC”, karena esok paginya dibuang begitu saja di kloset. Usia dan fisik manusia juga bentuk kesementaraan bukan?

Pertanyaannya akankah hidup kita yang sementara ini diisi kenikmatan sesaat untuk diri sendiri, ataukah kenikmatan sesaat untuk memikirkan orang lain?

Aku sudah merasakan nikmatnya berbagi tulisan dan menjadi inspirasi untuk orang lain (semoga), aku sudah merasakan nikmatnya berpartisipasi dalam kegiatan sosial, aku sudah merasakan nikmatnya menjadi orang tua asuh.

Bagaimana dengan Anda?

Author: Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s